
Ifonti.com JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia masih menunjukkan tren bervariasi di pertengahan Mei 2026 di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY. Meski dolar AS menguat, beberapa mata uang utama kawasan Asia masih mampu mencatat penguatan terbatas terhadap greenback.
Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (14/5/2026) pukul 11.15 WIB, indeks dolar AS berada di level 98,5 atau naik 0,42% dalam sebulan terakhir. Sementara itu, pasangan mata uang USD/JPY berada di level 157,8 dan tercatat turun 0,72% secara bulanan.
Di sisi lain, pasangan USD/CNY berada di level 6,78 dan melemah 0,49% secara bulanan. Adapun USD/SGD tercatat di level 1,27 atau naik tipis 0,12% dalam sebulan terakhir.
Ekspansi Tambang Emas Jadi Katalis Baru PTRO, Cek Rekomendasinya
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai yen Jepang (JPY) masih menghadapi tekanan kuat akibat aktivitas carry trade yang terus berlangsung.
“JPY masih terus tertekan oleh carry traders. Walau banyak verbal maupun direct intervention, namun seperti sebelumnya, yen kembali perlahan melemah menuju level 160,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).
Menurut Lukman, langkah intervensi pemerintah Jepang sejauh ini belum cukup efektif untuk membalikkan arah pelemahan yen secara signifikan. Hal itu terutama dipengaruhi oleh selisih suku bunga Jepang dan AS yang masih lebar sehingga membuat dolar AS tetap lebih menarik bagi investor global.
Sementara itu, yuan China (CNY) justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Lukman mengatakan penguatan yuan terjadi karena nilai tukarnya dinilai masih undervalued dan kini mendapat dukungan dari pemerintah China.
“CNY memang telah secara bertahap menguat terhadap dolar karena secara nilai memang masih undervalue. Namun kali ini pemerintah memberikan lampu hijau untuk penguatan tersebut,” jelas dia.
Adapun dolar Singapura (SGD) cenderung bergerak stabil. Kendati demikian, SGD masih dipandang sebagai salah satu aset safe haven regional di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Bursa Asia Menghijau Kamis (14/5), Ditopang Optimisme AI dan Pertemuan Trump-Xi
“SGD terpantau cukup datar, namun masih menjadi safe haven regional,” imbuh Lukman.
Lebih lanjut, Lukman melihat sentimen utama pasar saat ini tertuju pada pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Pelaku pasar berharap pertemuan kedua pemimpin tersebut dapat membawa perkembangan positif bagi hubungan dagang antara China dan AS.
Selain isu perdagangan, pasar keuangan global juga mencermati perkembangan ketegangan geopolitik, terutama terkait konflik AS-Iran yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan pergerakan mata uang global.
Untuk proyeksi kuartal II-2026, Lukman memperkirakan pasangan USD/JPY akan bergerak di kisaran 150–160. Sementara itu, USD/SGD diproyeksikan berada pada rentang 1,265–1,280 dan USD/CNY di level 6,7–6,8.