
Ifonti.com – JAKARTA. Kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksi meningkat seiring dengan produksi tambang Batu Hijau yang menuju normal pada tahun 2026. Harga komoditas hingga kelanjutan kebijakan ekspor konsentrat diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja AMMN di tahun 2026.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan mengatakan, kinerja AMMN di kuartal I-2026 berpeluang membaik dibanding tahun 2025 karena tekanan pada penjualan tertahan mulai lebih longgar setelah ada rekomendasi ekspor konsentrat sampai sekitar April 2026.
“Namun perbaikannya belum tentu langsung mulus, karena Kuartal I masih sangat bergantung pada stabilitas operasional smelter yang masih dalam fase perbaikan dan ramp-up, jadi masih ada tantangan,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).
Laba Bersih Sinar Mas Agro (SMAR) Melesat 102% di 2025, Penjualan Capai Rp 86,9 T
Ekky melihat sejumlah tantangan utama AMMN. Pertama, eksekusi perbaikan serta konsistensi operasi smelter. Kedua, kepastian realisasi ekspor konsentrat selama masa transisi hingga April 2026, termasuk bagaimana kelanjutan kebijakan setelah periode tersebut. Ketiga, aspek biaya dan cashflow di fase transisi, beban tetap berjalan dan pasar akan sensitif terhadap efisiensi biaya serta beban pendanaan.
Menurut Ekky, yang paling perlu dipantau investor adalah update operasional smelter dan progres perbaikan hingga semester I-2026. Serta kelancaran ekspor atau penjualan konsentrat.
“Di luar faktor internal, harga tembaga dan emas juga jadi driver utama karena AMMN sangat sensitif terhadap siklus komoditas, ditambah faktor kurs dan risk appetite global yang bisa memperbesar volatilitas,” jelas Ekky.
Tim Riset Phintraco Sekuritas mengatakan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi AMMN. Karena tambang Batu Hijau memasuki fase produksi yang lebih normal setelah transisi Fase 8, yang menghasilkan pemulihan volume penjualan dan penurunan biaya per unit.
Setelah transisi pada tahun 2025 dengan volume dan kadar yang kurang optimal, pemulihan operasi pada tahun 2026 diharapkan mendorong peningkatan margin dan laba yang lebih signifikan.
Penguatan rantai nilai juga mendukung momentum ini melalui smelter dan fasilitas Precious Metals Refinery (PMR), yang mulai memberikan produk dengan nilai tambah lebih banyak, dan melalui perluasan konsentrator. Perluasan konsentrator smelter PMR ditargetkan beroperasi pada awal tahun 2026 untuk memperkuat kapasitas dan menyederhanakan proses.
“Pendapatan AMMN diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada tahun fiskal 2026 seiring dengan pulihnya produksi tembaga dan emas setelah transisi ke Fase 8,” ujar tim riset Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada 19 Februari 2026.
Sementara dilihat dari kinerja saham, Andreas Yordan Tarigan, Analis Sucor Sekuritas mengatakan potensi kenaikan harga tembaga yang diperkirakan akan mendorong peningkatan peringkat saham AMMN.
“Secara historis harga saham AMMN cenderung tertinggal dari pergerakan harga tembaga, tetapi secara konsisten berhasil mengejar ketertinggalan dari waktu ke waktu,” ucap Andreas dalam risetnya pada 19 Januari 2026.
Andreas mengatakan bahwa saat ini rasio harga tembaga terhadap emas berada di dekat titik terendah dalam 40 tahun, menandakan potensi kenaikan yang signifikan.
“Kami memperkirakan harga tembaga akan terus naik, didukung oleh permintaan lindung nilai yang kuat, perkiraan penurunan suku bunga, dan kendala pasokan dari negara-negara penghasil utama,” ujarnya.
Ekky menyebut, untuk strategi, saham AMMN cocok untuk buy on weakness atau akumulasi bertahap, bukan mengejar saat euphoria. Hal ini karena newsflow smelter dan komoditas bisa membuat pergerakan harga cepat atau volatile.
Tim riset Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan dan laba bersih AMMN tahun 2026 masing – masing US$ 3,52 miliar dan US$ 1,52 miliar. Tahun 2025 pendapatan dan laba bersih diproyeksi mencapai US$ 1,14 miliar dan US$ 130 juta. Adapun tahun 2024 AMMN mengantongi pendapatan US$ 2,66 miliar dan US$ 642 juta.
Tim riset Phintraco Sekuritas dan Andreas merekomendasikan Buy saham AMMN dengan target harga masing – masing Rp 8.700 per saham dan Rp 11.000 per saham. Sementara Ekky merekomendasikan Buy on Weakness saham AMMN dengan target harga Rp 9.850 – Rp 10.000 per saham. Namun tetap perlu disiplin manajemen risiko karena setiap gangguan operasional atau isu kebijakan ekspor bisa langsung memicu volatilitas.
OJK: Tensi Geopolitik Timur Tengah Berpotensi Picu Volatilitas Pasar Keuangan Global