Menilik dampak perilisan shareholders concentration list ke pasar saham

Ifonti.com JAKARTA. Penerbitan BEI Bakal Terbitkan Shareholders Concentration List, Ini Dampaknya ke Pasar Saham atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi dapat menjadi jawaban untuk masalah transparansi Tanah Air, jika dieksekusi dengan baik.

Shareholders concentration list adalah tambahan hal yang harus dipenuhi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada MSCI. Hal itu merupakan hasil dari pertemuan kedua dengan penyedia indeks global tersebut.

Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI mengatakan, selama ini shareholders concentration list sudah diterapkan di Hong Kong. 

“Tentunya dengan implementasi ini akan lebih meningkatkan transparansi dan integritas pasar kita ke depannya,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu (11/2/2026).

Ada Aturan Free Float, UBO, hingga Demutualisasi, Ini Paket Reformasi Pasar Modal OJK

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan, shareholders concentration list adalah suatu data yang dapat menunjukkan seberapa banyak saham suatu perusahaan dipegang oleh beberapa pihak. Sehingga, publik dapat mengetahui, distribusi kepemilikan saham itu tinggi atau rendah. 

Di Hong Kong, data tersebut dikenal dengan nama High Shareholding Concentration Announcements. Jika konsentrasi tinggi, berarti saham tersebut hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. 

“Sebaliknya, jika konsentrasinya rendah, berarti ada kecenderungan kepemilikan saham perusahaan tersebut merata tersebar kepada ribuan investor,” ungkapnya kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).

Nico bilang, dengan kehadiran shareholders concentration list, transparansi dan tata kelola pasar saham bisa menjadi lebih baik.

“Sehingga kredibilitas Bursa Efek Indonesia pun dapat meningkat. Ketika kredibilitas meningkat, maka capital inflow juga pasti akan kembali datang,” katanya.

BEI Mau Terbitkan Shareholders Concentration List, Analis Soroti Aliran Dana Asing

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, ada kemungkinan penerbitan shareholders concentration list kemungkinan tak akan membuat pasar syok. Ini lantaran pasar sudah tahu masing-masing siapa sebenarnya ultimate beneficial owner (UBO) suatu perusahaan.

Sementara, Pengamat Pasar Modal dan Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat melihat, shareholders concentration list dapat membantu seluruh pihak menelaah data kepemilikan saham yang akan dibuka hingga 1%.

Sebagai pengingat, pembukaan data pemegang saham hingga 1% merupakan salah satu poin dari tiga proposal utama kepada MSCI sebagai bagian dari transformasi pasar saham Indonesia.

Upaya transparansi lewat shareholders concentration list itu dinilai akan membuat sejumlah pengusaha pemilik perusahaan terbuka menjadi tidak nyaman. Sebab, upaya ini akan membongkar siapa ultimate beneficial owner (UBO) suatu perusahaan.

Hal itu akan membuat negosiasi bisa berjalan cukup alot dan kemungkinan akan molor dari tenggat waktu self regulatory organization (SRO) di bulan Maret 2026. Bahkan tak kecil kemungkinan negosiasi juga belum beres hingga tenggat waktu dari MSCI di bulan Mei nanti.

Alasannya, karena praktik coordinated transaction alias goreng saham yang dikeluhkan MSCI sudah terjadi selama bertahun-tahun di pasar saham Indonesia. 

Jika tenggat waktu tak terpenuhi, ada kemungkinan Bursa Indonesia bisa turun ke frontier market dari saat ini emerging market. “Tapi bukan berarti pasar saham kita akan sepi,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2).

Teguh mengingatkan, investor domestik Tanah Air sudah mulai kuat. Ini tergambar dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir di tengah keluarnya aliran dana asing.

Namun, pasar kemungkinan masih akan terus wait and see sepanjang semester I 2026. Jika investor domestik masih belum berani untuk kembali masuk ke pasar saham, ada kemungkinan IHSG akan ada di level 7.500 di akhir semester I ini.

Alhasil, investor ritel domestik bisa fokus berinvestasi dengan melihat kinerja fundamental perusahaan incaran. 

“Banyak perusahaan yang berkinerja dan berdividen bagus, dengan harga saham yang masih murah,” katanya.

Sebaliknya, Budi tak begitu menyarankan investor untuk tidak hanya memperhatikan fundamental. Strategi itu akan membuat para investor kehilangan momentum, bahkan ada kecenderungan portofolionya memburuk.

“Jika tak ada liquidity provider atau investor asing, sulit naik (harga saham). Meskipun bisa untuk jangka panjang, tapi waktunya tidak tentu. Investor bisa memperhatikan saham mana yang disukai index providers dan akan dapat capital inflow,” ungkapnya.

Menurut Nico, volatilitas pasar saham masih akan mengalami peningkatan. Namun, kinerja fundamental perusahaan yang tercatat di BEI masih tidak ada yang berubah. Sebab, kinerja fundamental perusahaan berdasarkan valuasi dan proyeksi di masa yang akan datang.

Investor ritel pun disarankan Nico untuk menunggu kepastian terkait dengan langkah dan kebijakan yang akan dipersiapkan Bursa Efek Indonesia dengan MSCI.

Apabila langkah tersebut positif dan diterima dengan baik oleh MSCI, investor bisa masuk secara bertahap, bahkan dapat dilakukan mulai dari saat ini. “Mengapa bertahap? Karena volatilitas saat ini sedang tinggi,” ungkapnya.