
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) siap melanjutkan ekspansi pertumbuhan toko baru. Emiten yang berada di sektor ritel ini menargetkan pembukaan 200 gerai baru di tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi pembukaan gerai tahun lalu sebanyak 152 gerai.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim menyebut MIDI tetap berkomitmen merealisasikan target pembukaan gerai tersebut, sekaligus berencana untuk memperluas jangkauan bisnisnya ke sejumlah provinsi baru di luar Pulau Jawa pada tahun ini.
Christy juga memproyeksikan kinerja same store sales growth (SSSG) MIDI mencapai 3,1% di tahun 2026, turun dari asumsi awal di posisi 4,5%. Meski begitu, proyeksi SSSG tersebut meningkat dari realisasi SSSG tahun 2025 lalu sebesar 1,48%
Uni-Charm Indonesia (UCID) Gelar RUPSLB, Angkat Yasutaka Nishioka Jadi Presdir Baru
“Manajemen tetap optimis dapat membukukan SSSG mid single digit sepanjang tahun 2026,” tulis riset Christy pada Jumat (22/1/2026).
Secara terpisah, Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi, berpendapat strategi ekspansi gerai MIDI sudah berada di jalur yang tepat. Menurutnya, pembukaan gerai baru dinilai lebih efektif dalam mendorong perbaikan margin dibandingkan model ritel konvensional.
Dari sisi prospek, Wafi berpandangan MIDI masih berpeluang mencatatkan pertumbuhan positif pada 2026.
“Ini didukung oleh perubahan gaya hidup masyarakat urban yang semakin mengutamakan kepraktisan, meski tetap dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya sewa dan operasional,” tutur Wafi kepada Kontan, Senin (26/1/2026).
Selain itu, Christy juga mengungkapkan MIDI sebagai salah satu emiten dengan pertumbuhan yang relatif kuat di sektor ritel, dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun 2025 dan tahun 2026, masing-masing sebesar 4,9% dan 9,4%.
Christy bilang dengan tidak adanya ekspektasi kerugian dari entitas anak pada kuartal III-2025 dan kuartal IV-2025, proyeksi pertumbuhan laba MIDI di tahun 2025 dan tahun 2026 masing-masing senilai 31,7% dan 16,8%.
“Kami juga memperkirakan margin akan meningkat secara bertahap mulai tahun ini, didukung indikasi peningkatan margin struktural pasca divestasi Lawson pada kuartal III-2025,” ujar Christy.
Isu Independensi Bank Indonesia dan Risiko APBN Bikin Rupiah Masih Rapuh
Christy mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MIDI sebagai emiten ritel kebutuhan pokok (staple retailer), ditopang oleh profil bisnis yang lebih defensif dibandingkan ritel lainnya. Hal ini mendukung prospek pertumbuhan yang solid serta margin yang lebih berkelanjutan setelah divestasi Lawson. Ia menetapkan target harga saham MIDI berada di level Rp 550 per saham.
Wafi menyarankan buy saham MIDI di target harga Rp 590 per saham.
Hingga akhir perdagangan Selasa (26/1/2026), pergerakan saham MIDI berada di level Rp 334 per saham atau melemah 2,34% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Secara tahun berjalan, saham ini masih bergerak melemah 14,36%.