
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham syariah menjelang dan selama bulan suci Ramadan dinilai tetap menarik meski pergerakan sejumlah indeks syariah masih bervariasi sejak awal tahun. Tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal dan pergerakan dana asing, bukan pelemahan fundamental emiten berbasis syariah.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai secara struktur saham syariah justru memiliki karakter defensif karena ditopang perusahaan dengan rasio utang relatif terjaga serta berbasis bisnis riil.
“Tekanan indeks syariah lebih disebabkan faktor global dan rotasi sektor. Secara fundamental, emiten syariah masih cukup solid, bahkan cenderung defensif,” kata Hendra kepada Kontan, Selasa (18/2/2026).
Menurutnya, momentum Ramadan berpotensi menjadi penopang utama kinerja saham syariah, terutama melalui peningkatan konsumsi domestik. Kenaikan belanja masyarakat menjelang Idulfitri dinilai mampu mendorong penjualan emiten sektor consumer goods, pangan, dan ritel.
Intip Rekomendasi Teknikal Saham ENRG, DEWA, PGEO dari Analis untuk Kamis (19/2)
Ia menjelaskan perbedaan kinerja antar indeks syariah juga mencerminkan karakter komposisi saham di dalamnya. IDX Sharia Growth, misalnya, diisi saham dengan pertumbuhan laba agresif sehingga lebih responsif terhadap sentimen pasar berbasis pertumbuhan.
Sementara itu, IDX-MES BUMN17 dinilai lebih stabil karena berisi saham BUMN berbasis syariah dengan fundamental kuat dan pendapatan yang relatif konsisten.
“Perbedaan performa ini bukan anomali, tetapi mencerminkan profil masing-masing indeks. Ada yang berbasis growth, ada juga yang menjadi pilihan defensif,” jelasnya.
Dari sisi musiman, Ramadan dan Idulfitri secara historis kerap menjadi katalis positif bagi pasar, khususnya sektor konsumsi, pangan, peternakan hingga perbankan syariah. Distribusi tunjangan hari raya serta meningkatnya mobilitas masyarakat dinilai menciptakan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi domestik.
“Momentum ini bisa memicu technical rebound karena valuasi sebagian saham syariah saat ini sudah relatif menarik,” katanya.
Di tengah ketidakpastian global, Hendra melihat sektor consumer staples, agribisnis pangan, energi berbasis batu bara dengan arus kas kuat, serta perbankan syariah menjadi tema investasi yang paling menarik. Ketahanan konsumsi domestik dinilai masih menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Adapun sejumlah saham syariah yang layak dicermati antara lain PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dengan rekomendasi trading buy dan target harga Rp2.500 karena valuasi relatif murah serta arus kas solid. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) direkomendasikan buy dengan target Rp7.000 seiring momentum konsumsi Ramadan dan karakter defensif bisnisnya.
Dari sektor protein hewani, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dinilai menarik secara spekulatif dengan target Rp2.830 seiring potensi peningkatan permintaan unggas. Sementara PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) direkomendasikan speculative buy dengan target Rp2.600, didukung pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan literasi keuangan syariah.
Secara keseluruhan, ia menilai Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga periode penting bagi aktivitas ekonomi yang berpotensi mendukung kinerja saham syariah.
“Dalam kondisi pasar yang masih variatif, peluang justru terbuka bagi investor yang mampu memanfaatkan momentum musiman dan fundamental emiten yang kuat,” tutupnya.
Jasa Marga (JSMR) Dapat Berkah Libur Imlek, Simak Rekomendasi Sahamnya