
Ifonti.com SINGAPURA. Lembaga pemeringkat kredit global Moody’s Ratings menegaskan kembali peringkat Corporate Family Rating (CFR) B3 untuk PT Lippo Karawaci Tbk sekaligus merevisi prospeknya menjadi stabil dari sebelumnya positif.
Analis Moody’s, Anthony Prayugo, mengatakan perubahan outlook tersebut mencerminkan perkiraan bahwa arus kas operasional negatif pada 2025 masih akan menekan likuiditas perusahaan. Kondisi ini terjadi setelah kas perusahaan menurun dan utang jangka pendek meningkat.
“Likuiditas Lippo Karawaci diperkirakan tetap lemah dalam 12–18 bulan ke depan dan masih bergantung pada perpanjangan fasilitas modal kerja,” kata Anthony.
Prodia (PRDA) Catat Pendapatan Naik 1,31% YoY Sepanjang 2025
Pada 2025, Lippo Karawaci mencatat arus kas operasional negatif sebesar Rp 1,6 triliun. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain penjualan pemasaran (marketing sales) yang hanya mencapai Rp 5,3 triliun, lebih rendah dari target akibat melemahnya sentimen konsumen.
Selain itu, LPKR harus menunda peluncuran proyek di tingkat perusahaan induk di mana Rp 900 miliar dari arus kas keluar tersebut berasal dari anak usaha yang dimiliki 91%, yakni PT Lippo Cikarang Tbk.
Perusahaan ini mengeluarkan belanja konstruksi lebih besar untuk menyelesaikan serah terima sebagian besar unit lama proyek Meikarta. Serah terima unit lama Meikarta diperkirakan masih berlangsung pada 2026 dan akan selesai pada 2027.
Moody’s memperkirakan arus kas operasional konsolidasi akan mendekati netral pada 2026 dan membaik menjadi sekitar Rp 500 miliar pada 2027
Proyeksi ini dengan asumsi marketing sales tetap di atas Rp 5 triliun per tahun selama periode 2026–2027.
Kas Lippo Karawaci turun menjadi Rp 1,9 triliun pada akhir 2025, dari Rp 5,3 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh penggunaan dana untuk pelunasan obligasi dollar AS sebesar Rp 1 triliun. Dukungan bisnis sewa sebesar Rp 360 miliar dan akuisisi Aryaduta Hotel & Country Club.
Akibatnya, kemampuan perusahaan untuk menyerap risiko penurunan misalnya penjualan properti yang lebih lemah menjadi terbatas.
Moody’s memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA yang disesuaikan akan berada di kisaran 6,5–7,5 kali pada 2026–2027, dibanding 7,3 kali pada 2025.
Cermati Rekomendasi Saham Teknikal HEAL, INCO, CPIN untuk Jumat (13/3)
Profitabilitas diperkirakan membaik secara bertahap seiring berkurangnya penyerahan unit lama Meikarta pada periode tersebut.
Meski demikian, peringkat B3 juga mencerminkan posisi Lippo Karawaci sebagai salah satu pengembang perumahan terbesar di Indonesia, meskipun tetap terpapar kondisi ekonomi makro yang melemah dan sentimen konsumen yang belum pulih sepenuhnya.
Moody’s menilai likuiditas perusahaan masih lemah. Kas perusahaan per Desember 2025 ditambah arus kas operasional yang diperkirakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pendanaan hingga Desember 2027. Pasalnya LPKR masih membutuhkan dana untuk membayar kewajiban utang jangka pendek, jatuh tempo utang jangka panjang dan rencana investasi
Namun risiko likuiditas sedikit tertahan karena Moody’s memperkirakan Lippo Karawaci masih dapat memperpanjang (roll over) utang jangka pendek sekitar Rp 1,7 triliun, serta memiliki akses ke fasilitas pendanaan dalam negeri.
Sementara outlook stabil mencerminkan perkiraan Moody’s bahwa dalam 12–18 bulan ke depan perusahaan akan terus memperpanjang utang jangka pendeknya, menjaga penjualan pemasaran tetap stabil dan tidak melakukan investasi agresif.
Menurut Moody’s peringkat Lippo Karawaci bisa naik jika bisnis pengembangan properti inti menunjukkan kinerja kuat, arus kas operasional menjadi positif tanpa bergantung pada penjualan aset satu kali dan likuiditas membaik dalam 12–18 bulan.
Indikator keuangan yang mendukung kenaikan antara lain rasio utang/EBITDA di bawah 4,5 kali dan rasio EBIT terhadap beban bunga di atas 2,5 kali.
Sebaliknya, peringkat dapat diturunkan jika arus kas operasional terus negatif dan melemahkan likuiditas, aliran dana ke perusahaan afiliasi meningkat, misalnya melalui pinjaman antar perusahaan dan kebijakan keuangan menjadi lebih agresif, seperti peningkatan investasi berbasis utang atau pembayaran dividen tunai yang lebih besar.