
Ifonti.com SINGAPURA. Moody’s Ratings menegaskan peringkat kredit PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di level Baa2. Selain itu, Moody’s juga mempertahankan kesehatan keuangan murni alias Baseline Credit Assessment (BCA) emiten berkode saham PGAS ini berada di level baa2.
Namun, outlook peringkat PGN direvisi menjadi negatif, dari sebelumnya stabil.
Perubahan outlook ini mengikuti keputusan Moody’s pada 5 Februari 2026 yang mempertahankan peringkat utang Pemerintah Indonesia di Baa2, namun menurunkan outlook-nya menjadi negatif.
Moody’s menjelaskan bahwa revisi outlook PGN terutama dipengaruhi oleh outlook negatif peringkat utang Indonesia. Outlook tersebut mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah, yang terlihat dari kebijakan yang dinilai kurang konsisten serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif dalam setahun terakhir.
Wall Street Rebound, Saham Amazon Anjlok Akibat Lonjakan Belanja AI
Jika kondisi ini berlanjut, Moody’s menilai hal tersebut dapat melemahkan kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi, stabilitas fiskal, dan stabilitas sistem keuangan.
Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia karena ekonomi nasional dinilai masih resilien, didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan struktur demografi yang kuat, sehingga menopang pertumbuhan PDB yang relatif stabil.
Moody’s menegaskan peringkat Baa2 PGN tidak didasarkan pada asumsi dukungan pemerintah. Namun, PGN tetap rentan terhadap pelemahan peringkat negara karena kepemilikan mayoritas pemerintah, dan fokus bisnis PGN yang sebagian besar berada di dalam negeri, sehingga sangat terkait dengan kondisi ekonomi domestik.
Hal inilah yang tercermin dalam perubahan outlook PGN menjadi negatif.
Moody’s mempertahankan kesehatan keuangan PGN di level baa2. Perusahaan ini didukung oleh beberapa faktor utama seperti posisi dominan PGAS sebagai perusahaan transmisi dan distribusi gas terbesar di Indonesia.
Selain itu, Moody’s memproyeksi kinerja keuangan yang kuat dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Keterkaitan dengan ekonomi domestik dan pemerintah menurut Moody’s sudah tercermin dalam peringkat saat ini
Moody’s mencatat kinerja keuangan PGN terus membaik dalam beberapa tahun terakhir. Rasio retained cash flow (RCF) terhadap utang meningkat menjadi 43% pada 2024, dari 39% pada 2023. Hingga 30 September 2025, rasio RCF/debt dalam 12 bulan terakhir berada di level 42%.
Simak Rekomendasi ANTM dan PTBA Usai Dapat Proyek Hilirisasi Danantara
Bisnis inti transmisi dan distribusi gas tetap menjadi penopang utama kinerja PGN. Meski demikian, Moody’s menyoroti sejumlah tantangan, seperti penurunan alami produksi dari blok gas utama serta perpanjangan kebijakan batas atas harga gas.
Meski ada tantangan tersebut, Moody’s memperkirakan rasio keuangan PGN tetap kuat, didukung oleh pengelolaan utang yang hati-hati dan cadangan kas yang besar.
Dalam tiga hingga empat tahun ke depan, PGAS menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) yang cukup besar. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan bisnis transmisi dan distribusi gas dan memperluas kapasitas liquefied natural gas (LNG) guna mengatasi tantangan pasokan
Moody’s menilai risiko pelaksanaan proyek tersebut masih dapat dikelola, mengingat pengalaman PGN yang luas serta rekam jejak yang kuat dalam menjalankan proyek ekspansi.
Sementara dengan outlook negatif, Moody’s menyatakan tidak ada potensi kenaikan peringkat PGN dalam waktu dekat.
Outlook PGN dapat kembali stabil apabila outlook peringkat utang Indonesia kembali stabil, dan tidak terjadi penurunan signifikan pada kualitas kredit PGN secara mandiri.
Sebaliknya, peringkat dan BCA PGN dapat diturunkan jika peringkat utang pemerintah Indonesia diturunkan, atau kualitas kredit PGN melemah, terutama jika rasio RCF/debt berada di bawah 28% secara berkelanjutan.
Tekanan Asing & Sentimen Global Buat IHSG Ambles 4,73% Sepekan, Ini Kata Analis