
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mampu mencatatkan kenaikan laba dan penjualan di tahun 2025.
Berdasarkan kinerja laporan keuangannya, pendapatan perusahaan naik 4,69% yoy ke level Rp 3,54 triliun, dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp 3,38 triliun.
Secara rinci, segmen produk dari kelompok alkohol menyumbang penjualan sebesar Rp 3,29 triliun dan non alkohol Rp 248,52 miliar.
Sejalan dengan itu, laba bersih perusahaan juga meningkat 3,62% yoy ke level Rp 1,18 triliun, dari periode yang sama tahun 2024 senilai Rp 1,14 triliun.
Beban Fiskal Makin Berat, Rupiah Tertekan dan Sempat Sentuh Rp 17.006 Senin (16/3)
Corporate Affairs Director PT Multi Bintang Indonesia Tbk Bambang Chriswanto mengatakan kinerja Multi Bintang Indonesia pada tahun 2025 didukung oleh eksekusi strategi yang disiplin, portofolio merek yang kuat, serta penguatan efektivitas operasional di seluruh organisasi.
“Sepanjang tahun, kami tetap fokus memperkuat kepemimpinan Bintang di segmen mainstream, sekaligus memperluas penetrasi melalui inovasi produk dan format kemasan baru yang relevan dengan pola konsumsi yang terus berkembang,” kata Bambang kepada Kontan, Senin (16/3/2026).
Pada saat yang sama, MLBI juga memperkuat kehadiran Heineken di segmen premium melalui inisiatif pemasaran yang lebih terarah di kota-kota besar. Kombinasi dari strategi portofolio tersebut menghasilkan pertumbuhan volume dan nilai di kedua segmen, dan turut mendorong peningkatan penjualan dan laba perusahaan.
Selain itu, program peningkatan produktivitas dan pengelolaan biaya yang disiplin memperkuat fondasi operasional di tengah volatilitas nilai tukar dan dinamika pasar.
Jelang Rapat Dewan Gubernur BI, Rupiah Sempat Jebol Rp 17.000 per Dolar AS
Memasuki 2026, Bambang melihat kondisi ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap stabil dengan pertumbuhan sekitar 5,1%, didukung oleh konsumsi domestik yang solid serta iklim investasi yang membaik. Faktor-faktor ini menjadi sentimen positif bagi industri minuman dan bagi perusahaan.
Namun, pihaknya tetap mewaspadai dinamika global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan potensi tekanan nilai tukar yang dapat mempengaruhi biaya operasional. Oleh karena itu, MLBI akan terus memperkuat ketahanan bisnis melalui pengelolaan biaya yang disiplin, peningkatan produktivitas, serta peningkatan efisiensi rantai pasok agar bisnis tetap tangguh dan adaptif.
“Dari sisi komersial, kami akan melanjutkan upaya memperkuat kepemimpinan di segmen mainstream melalui brand Bintang, memperkuat fondasi segmen premium dengan Heineken, serta meningkatkan kemampuan route to consumer melalui digitalisasi dan pemanfaatan insight berbasis data,” ucapnya.
Sayangnya, Bambang tidak mengungkapkan nilai target pendapatan dan laba yang diincar untuk tahun 2026. Yang jelas, pihaknya tetap berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan melalui beberapa prioritas strategis.
Pertama, memperkuat portofolio perusahaan di segmen mainstream dan premium agar tetap relevan dengan preferensi konsumen yang berkembang. Kedua, meningkatkan efektivitas rute pemasaran dan distribusi melalui digitalisasi serta pemanfaatan insight berbasis data.
Raharja Energi (RATU) Akan Terbitkan Surat Utang Rp 800 Miliar, Begini Kata Analis
Ketiga, memperkuat fondasi operasional melalui optimalisasi proses kerja dan pengelolaan biaya yang disiplin. Dan keempat, mempercepat agenda keberlanjutan perusahaan dalam kerangka Brew a Better World 2030, termasuk energi terbarukan, pengelolaan air dan sirkularitas material dan kemasan.
“Dengan pendekatan ini, kami percaya bahwa perusahaan berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang pertumbuhan di tahun 2026,” tutupnya.
Prospek dan Rekomendasi Saham MLBI
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan kinerja MLBI pada tahun 2025 terutama didorong oleh pemulihan konsumsi di segmen hospitality seperti restoran, bar, dan hotel, yang merupakan kanal distribusi utama produk bir. Selain itu, perusahaan juga diuntungkan oleh kekuatan brand premium serta strategi penyesuaian harga yang membantu menjaga margin di tengah tekanan biaya bahan baku.
Untuk tahun 2026, Azis menilai prospek MLBI tetap stabil dengan dukungan pemulihan sektor pariwisata dan meningkatnya aktivitas konsumsi di segmen hiburan dan restoran.
“Namun, kinerja perusahaan juga berpotensi menghadapi tantangan dari kenaikan biaya bahan baku, tekanan daya beli konsumen, serta regulasi terkait produk alkohol di Indonesia,” ucap Azis.
Bagi investor, MLBI masih menarik sebagai saham defensif di sektor consumer karena memiliki margin yang kuat, brand yang dominan, serta arus kas yang relatif stabil. Namun, potensi pertumbuhan cenderung moderat karena pasar bir domestik tidak tumbuh terlalu agresif dan regulasinya cukup ketat.
Azis merekomendasikan trading buy dengan target Rp 5.600-Rp 5.700 dan support Rp 5.350-Rp 5.300 per saham.