Nilai kapitalisasi bursa ditargetkan Rp 25.000 triliun, ambisius tapi realistis

Ifonti.com JAKARTA. Nilai kapitalisasi pasar saham ditargetkan mencapai sekitar Rp 25.000 triliun pada tahun 2031.

Hal itu disampaikan Hasan Fawzi yang kini sudah resmi menjadi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut dia, target kapitalisasi pasar saham tersebut setara sekitar 80% dari produk domestik bruto (PDB) nasional.

Di hadapan Komisi XI DPR RI pada Rabu (11/3/2026) lalu, Hasan juga menargetkan jumlah investor pasar modal bisa meningkat hingga 30 juta investor. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar modal diharapkan mencapai Rp 35 triliun per hari.

“Sejalan dengan itu diharapkan juga terjadi peningkatan jumlah emiten serta dana kelolaan investor di pasar modal,” katanya.

IHSG Terkoreksi 1,37% di Sesi I Senin (16/3): Saham DSSA, BRPT, AMMN Jadi Top Losers

Sebagai gambaran, menurut data BEI per 13 Maret 2026, saat ini kapitalisasi pasar Bursa sebesar Rp 12.678 triliun. RNTH sebesar Rp 28,54 triliun per hari sejak awal tahun 2026 (YTD).

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani berpandangan, target kapitalisasi pasar Rp25.000 triliun dalam lima tahun itu merupakan sasaran yang sangat ambisius, karena menuntut pertumbuhan hampir dua kali lipat dari posisi saat ini.

Namun, target tersebut tetap realistis jika didukung oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di atas 5% dan akselerasi IPO perusahaan skala besar. 

Kondisi tersebut juga dinilai sejalan dengan upaya penyehatan pasar modal yang sedang dilakukan OJK. Sebab, pencapaian angka tersebut hanya akan berkualitas jika didorong oleh kenaikan nilai intrinsik emiten dan kepercayaan investor, bukan sekadar penggelembungan harga melalui transaksi semu. 

“Penyehatan pasar melalui pembersihan emiten bermasalah justru menjadi fondasi utama agar investor institusi global bersedia menanamkan modal jangka panjang yang masif di bursa,” ujar Chory kepada Kontan, Minggu (15/3/2026).

Setidaknya ada empat poin yang bisa dilakukan self regulatory organization (SRO) Tanah Air agar target tersebut bisa terealisasikan secara sehat. Pertama, mendorong perusahaan dengan valuasi besar, termasuk BUMN dan unicorn teknologi, untuk melantai di bursa.

BCA (BBCA) Bagi Dividen Tunai 2025 Rp 336 per Saham, Cek Jadwalnya

Kedua, meningkatkan jumlah investor domestik, terutama institusi seperti dana pensiun dan asuransi, agar likuiditas terjaga stabil. Ketiga, mengembangkan produk derivatif, structured warrants, dan bursa karbon yang aktif dapat menambah nilai kapitalisasi secara keseluruhan.

“Terakhir, melakukan hilirisasi komoditas dan transisi energi hijau yang akan melahirkan pemimpin pasar baru dengan valuasi tinggi,” kata Chory.

Chory bilang, tantangan terbesar dalam memenuhi target tersebut adalah menjaga kualitas emiten di tengah gempuran kuantitas perusahaan yang ingin listing, serta kerentanan pasar terhadap fluktuasi suku bunga global yang memicu arus modal keluar. 

“Jumlah investor juga memang meningkat, tapi pemahaman terhadap risiko masih tertinggal,” ungkapnya.

Untuk mengatasinya, SRO Tanah Air harus memperkuat sistem pengawasan transaksi berbasis teknologi untuk mendeteksi manipulasi pasar secara dini guna menjaga integritas bursa. 

“Selain itu, SRO perlu memberikan insentif dan kemudahan regulasi bagi perusahaan yang menerapkan tata kelola (GCG) dan prinsip ESG yang baik, sehingga daya tarik pasar modal Indonesia tetap kompetitif dibandingkan bursa regional lainnya,” imbuh Chory.

Mulai Hari Ini, Astra International (ASII) Gelar Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun