Pasar saham Indonesia diproyeksi menguat pada 2026, tantangan IPO masih membayangi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham Indonesia diproyeksi menjadi salah satu yang paling menarik di kawasan Asia pada 2026, seiring kombinasi valuasi yang rendah, pemulihan pendapatan emiten, dan potensi masuknya aliran dana asing.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai Indonesia memiliki peluang kenaikan indeks yang solid jika momentum penurunan suku bunga global berjalan sesuai ekspektasi.

HSBC menetapkan target IHSG pada 2026 di level 9.450, atau potensi kenaikan 12,9%, lebih tinggi dibanding Singapura (3,8%), Malaysia (7,2%), dan Taiwan (3,2%).

Rupiah Menguat ke Rp 16.865 pada Rabu (14/1), Cek Proyeksinya untuk Kamis (15/1)

“Indonesia menawarkan pemulihan dalam siklus pertumbuhan dan pendapatan, dengan valuasi yang sangat rendah,” ujar Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, Indonesia berada di posisi menarik karena eksposur portofolio investor asing masih relatif rendah. Banyak saham perbankan dan konsumsi berkapitalisasi besar dinilai undervalued, sementara pemulihan laba emiten diperkirakan lebih kuat dalam dua tahun ke depan.

Dalam konteks global, Herald menilai pasar saham Asia akan mulai bergerak melampaui tema AI yang selama dua tahun terakhir mendominasi portofolio di Taiwan dan Korea.

Investor dinilai akan mencari cerita baru yang menawarkan valuasi lebih menarik serta siklus pendapatan yang membaik.

“Investor akan mulai melihat apakah ada cerita lain yang muncul di kawasan. Untuk itu, Indonesia cukup menonjol,” katanya.

Meski demikian, Herald mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan struktural karena minimnya arus penawaran umum perdana (IPO). Dibanding gelombang IPO di China, India, dan Korea, pipeline IPO Indonesia dinilai stagnan sehingga membatasi perkembangan kapitalisasi pasar.

Sido Muncul (SIDO) Incar Laba Bersih 8% pada 2026, Cek Prospek Kinerjanya

“Jika tidak ada pipeline IPO yang kuat, pasar akan relatif mengecil dibanding pasar lain di kawasan,” tegasnya.

Menurut Herald, stagnasi jumlah emiten sejak 1990-an membuat struktur pasar Indonesia cenderung tidak berubah.

Perusahaan berkapitalisasi besar masih didominasi kelompok yang sama, sementara perusahaan pertumbuhan belum banyak masuk ke bursa. Ia menilai Indonesia perlu mempercepat kemudahan pencatatan tanpa mengorbankan kualitas agar investor memiliki lebih banyak pilihan.

Selain Indonesia, HSBC juga menetapkan rekomendasi overweight untuk China dan India, yang masing-masing diproyeksi mencatat kenaikan 19,6% dan 11,3% pada 2026. Sementara Singapura, Taiwan, dan Korea masuk kelompok underweight karena ekspektasi pertumbuhan yang lebih moderat dan valuasi yang sudah relatif tinggi.

Dari sisi prospek sektoral, Herald menilai penurunan suku bunga global akan memberi angin segar bagi sektor properti dan konsumsi di Indonesia. Likuiditas yang lebih longgar juga berpotensi meningkatkan minat investasi dari generasi muda, yang menurutnya semakin aktif di pasar saham domestik.

“Ada generasi muda yang mulai berinvestasi di ekuitas. Itu hal yang positif dan saya harap terus berlanjut,” ujarnya.

Sejalan dengan pandangan HSBC, analis OCBC Sekuritas Farrell Nathanael menilai sektor komoditas berpotensi tetap solid tahun ini, ditopang ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan stimulus ekonomi China.

Sementara sektor properti mendapat dukungan dari insentif PPN dan pelonggaran moneter. “Properti berpeluang membaik karena insentif dan valuasi yang masih atraktif,” kata Farrell.

Namun, ia mengingatkan bahwa risiko global masih dapat menciptakan volatilitas pada rupiah. Penguatan dolar AS, eskalasi geopolitik, serta volatilitas harga minyak dapat mempengaruhi arus modal asing dan neraca perdagangan.

“Risiko kebijakan moneter global tetap perlu dicermati karena bisa menekan rupiah,” ujarnya.

Dengan kombinasi valuasi rendah, potensi pemulihan pendapatan, dan peluang arus masuk asing, pasar saham Indonesia diperkirakan tetap menjadi salah satu yang paling menarik di Asia.

Namun, percepatan IPO dan perluasan basis emiten dinilai penting agar pasar domestik tidak tertinggal dalam peta regional.