Pelemahan IDX80: Saham big caps tertekan, sektor ini justru cuan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja indeks 80 terpantau paling jeblok dari sejumlah indeks papan utama di Bursa Efek Indonesia. Pada Jumat (27/3/2026), IDX80 yang mengukur kinerja harga dari 80 saham paling likuid, memiliki kapitalisasi pasar besar dan fundamental perusahaan yang baik sudah merosot 16,98% sejak awal tahun 2026.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan kinerja IDX80 yang terkoreksi sejak awal tahun merupakan hasil kombinasi tekanan eksternal dan internal. 

Dari sisi global, meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong risk off sentiment yang berujung pada arus keluar dana asing (foreign outflow) dari emerging markets, termasuk Indonesia.

Selain itu, terlihat intensitas aksi jual investor asing yang meningkat, seiring preferensi global yang bergeser ke aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat dan obligasi. Pada saat yang sama, institusi besar mulai melakukan rotasi portofolio, keluar dari aset berisiko tinggi dan saham berbasis pertumbuhan menuju sektor yang lebih defensif dan berbasis komoditas.

Dari domestik, tekanan diperkuat oleh aksi profit taking pasca reli akhir 2025, serta koreksi pada saham-saham big caps yang memiliki bobot dominan di IDX80.

Elandry juga mengungkapkan tekanan utama pada IDX80 berasal dari sektor-sektor dengan bobot besar dan sensitivitas tinggi terhadap likuiditas global.

Sektor perbankan besar menjadi kontributor utama pelemahan, terutama akibat kombinasi foreign outflow dan normalisasi ekspektasi margin. 

Masuk IDX80, Saham BREN, CUAN, dan HRTA, Begini Proyeksi Analis

Selanjutnya, sektor konsumer non-primer tertekan oleh pelemahan daya beli, sementara saham teknologi dan growth mengalami koreksi lebih dalam karena sensitivitas terhadap suku bunga tinggi. Selain itu, sektor properti dan konstruksi masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan dan tingginya biaya pendanaan.

Sebaliknya, sektor energi dan komoditas cenderung lebih resilien, sehingga berperan sebagai penahan laju koreksi indeks secara keseluruhan.

“Ke depan, pergerakan IDX80 diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi dinamika global, khususnya perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global,” kata Elandry kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).

Dalam jangka pendek, pasar cenderung bersifat headline driven, dengan volatilitas tinggi mengikuti perkembangan informasi. 

Adapun katalis positif antara lain potensi deeskalasi konflik, peluang penurunan suku bunga global, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta kembalinya aliran dana asing.

Sebaliknya, risiko utama berasal dari potensi eskalasi konflik yang mendorong kenaikan harga energi, tekanan inflasi global, serta berlanjutnya arus keluar dana asing.

Secara keseluruhan, ruang pemulihan tetap terbuka, namun cenderung bertahap dan sangat bergantung pada perbaikan sentimen global. Dalam kondisi pasar yang masih volatil, pendekatan selektif berbasis sektor menjadi kunci.

Elandry menilai sektor energi dan komoditas masih menarik dalam jangka pendek hingga menengah, didukung oleh dinamika harga global dan arus rotasi dana. Sementara itu, perbankan besar berada pada posisi netral, dengan potensi pemulihan jika aliran dana asing mulai kembali stabil.

Saham Baru IDX80 Februari–April 2026 Masih Tertekan, Cek Peluang BREN, CUAN & HRTA

Di sisi lain, sektor konsumer dan growth masih cenderung tertahan dalam jangka pendek, menunggu perbaikan daya beli dan arah suku bunga yang lebih akomodatif.

Saham Pilihan

1. Energi & Komoditas: AADI, ADRO, PTBA, ITMG, MEDC

Sektor ini masih menjadi pilihan utama karena diuntungkan langsung dari kenaikan harga energi akibat konflik global, serta menjadi tujuan rotasi dana saat pasar dalam kondisi risk-off.

2. Nikel & EV Exposure: ANTM, MBMA, NCKL

Menarik untuk jangka menengah karena didukung tren kendaraan listrik global dan tetap menjadi bagian dari strategi diversifikasi komoditas oleh institusi besar.

3. Big Banks (Akumulasi): BBCA, BBRI, BMRI

Saat ini tertekan oleh arus keluar asing, namun justru membuka peluang akumulasi karena fundamental tetap kuat dan berpotensi rebound saat aliran dana kembali.

4. Defensive: ICBP, UNVR, KLBF

Cocok sebagai penyeimbang portofolio di tengah volatilitas tinggi, dengan karakter pendapatan yang stabil meskipun upside relatif terbatas.

5. High Beta (Agresif): CUAN, BRMS, DEWA

Menawarkan potensi kenaikan cepat, namun pergerakan sangat dipengaruhi sentimen jangka pendek sehingga risiko juga tinggi.

Rekomendasi saham IDX80 

Elandry mengungkapkan sektor perbankan besar masih menarik, dengan BBCA berpotensi menuju kisaran Rp 7.000–Rp 7.300, sementara BBRI memiliki peluang menguat ke area Rp 3.450–Rp 3.520

Dari sektor energi dan komoditas, ADRO diperkirakan dapat mengarah ke Rp 2.630–Rp 2.720, sedangkan ANTM berpotensi naik ke kisaran Rp 3.580–Rp 3.700.

Pada sektor infrastruktur dan digital, TLKM berpeluang menuju Rp 3.200–Rp 3.400, sementara TOWR dapat bergerak ke area diatas Rp 500 dengan kisaran Rp 510

Untuk sektor konsumer, ICBP memiliki potensi ke Rp 7.350–Rp 7.500, dan AMRT berpeluang menuju Rp 1.540–Rp 1.800.

Sementara itu, pada kategori high risk dan high return, BUMI berpotensi ke Rp 226–Rp 248, dan BRMS memiliki peluang menuju Rp 750–Rp 800.

Elandry berpendapat strategi terbaik saat ini mengikuti rotasi pasar. Ia menekankan investor untuk fokus pada energi dan komoditas untuk momentum, serta cicil perbankan besar. Namun karena pasar masih headline-driven dan volatil, target sebaiknya tidak terlalu tinggi dan lebih cocok untuk trading jangka pendek. 

“Kondisi saat ini lebih disarankan untuk trading dengan target pendek kisaran 3%-7% dengan tetap memperhatikan sentimen harian,” ucapnya.

Prospek Indeks IDX80 Usai Lakukan Rebalancing

Di samping itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai koreksi IDX80 sejak awal tahun dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari sisi global, tekanan datang dari meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang mendorong lonjakan harga minyak. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga global menjadi tertunda. Dampaknya, arus dana asing cenderung keluar dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.

Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap IDX80 juga dipengaruhi oleh sejumlah isu yang berkaitan dengan kredibilitas pasar, seperti revisi aturan free float MSCI, memburuknya outlook rating Fitch, sensitivitas terhadap UBO 1%, risiko guncangan energi atau potensi kelangkaan BBM, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.000 per dolar AS. Faktor-faktor tersebut dinilai turut menekan risk appetite investor asing.

Menurut Liza, sektor yang paling membebani pergerakan IDX80 sejauh ini berasal dari perbankan besar, mengingat sektor ini cukup sensitif terhadap capital outflow, arah suku bunga, dan pelemahan nilai tukar rupiah.

BEI Kocok Ulang Konstituen LQ45, IDX30 dan IDX80, Simak Rincian Terbarunya

Selain itu, sektor telekomunikasi, khususnya emiten yang terkait dengan isu tata kelola (governance), juga menambah tekanan terhadap sentimen pasar.

Di sisi lain, sektor consumer dan cyclicals turut terdampak oleh pelemahan daya beli masyarakat serta kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi. Sementara itu, sejumlah saham di sektor industrial juga tertekan akibat meningkatnya biaya energi dan logistik.

“Secara valuasi, IDX80 sudah masuk area menarik atau mendekati fase bottoming secara magnitude, tetapi belum tentu sudah mencapai titik bawah dari sisi timing,” ujar Liza kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).

Ia menambahkan, arah pergerakan IDX80 ke depan akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama. Pertama, stabilisasi harga minyak yang disertai meredanya konflik AS-Iran. Kedua, kejelasan arah suku bunga global, terutama kebijakan The Fed. Ketiga, pemulihan kepercayaan terhadap pasar domestik.

“Jika ketiga faktor tersebut mulai membaik, IDX80 memiliki ruang rebound yang cukup signifikan karena basisnya diisi oleh saham-saham likuid dengan fundamental yang solid. Namun, dalam jangka pendek, pasar masih cenderung volatil dan saat ini lebih berada dalam fase bottoming process ketimbang uptrend,” jelas Liza.

Ada Evaluasi Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80, Ini Rekomendasi Saham yang Masuk