
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah memangkas kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi 260 juta-270 juta ton, turun signifikan dari 379 juta ton pada 2025. Kebijakan ini dinilai berdampak langsung terhadap kinerja emiten nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai kebijakan ini positif untuk menyeimbangkan harga pasar, namun berpotensi menekan target volume penjualan bijih dalam jangka pendek.
“Emiten terpaksa mengurangi produksi, tetapi berpotensi diuntungkan dari kenaikan average selling price (ASP) akibat penurunan suplai,” kata Wafi kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).
IHSG Menguat 1,96% ke 8.290 pada Rabu (11/2/2026), BRPT, MAPI, BUMI Top Gainers LQ45
Ia menambahkan, pengetatan suplai dari Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia dapat menjadi katalis bullish bagi harga nikel global yang sebelumnya tertekan isu oversupply. Meski demikian, dalam jangka pendek volume penjualan diperkirakan turun sebelum kenaikan harga mampu mengompensasi dampaknya terhadap pendapatan.
Wafi menjelaskan, strategi menjaga margin menjadi kunci di tengah kuota yang lebih ketat. ANTM dan NCKL diperkirakan memprioritaskan pasokan bijih ke smelter afiliasi guna mengamankan nilai tambah, sementara INCO akan fokus pada efisiensi energi untuk menekan biaya produksi.
Dari sisi spesifik emiten, ANTM dinilai paling terdampak pada segmen penjualan bijih domestik, meski lini emas dapat menjadi penopang. INCO relatif stabil karena fokus pada ekspor nickel matte dengan kontrak jangka panjang. Adapun NCKL diuntungkan oleh integrasi hulu-hilir yang kuat sehingga risiko kelangkaan bahan baku smelter lebih terkelola.
“Proyeksi sektor berpotensi membaik dari negatif ke netral seiring intervensi pemerintah untuk menyeimbangkan suplai,” tambahnya.
Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai pemangkasan kuota akan menekan volume penjualan dan berisiko menurunkan pendapatan emiten secara tahunan (YoY). Namun, dalam jangka menengah, pengetatan suplai berpotensi menopang harga nikel global.
Ini Tanggapan OJK Soal Rebalancing MSCI Indonesia Periode Maret 2026
Untuk menjaga margin, David menyarankan emiten memperkuat hilirisasi, meningkatkan efisiensi biaya operasional (cash cost), serta mengoptimalkan pasar domestik.
Menurutnya, ANTM relatif lebih aman karena diversifikasi bisnis ke emas dan bauksit. INCO sangat bergantung pada efisiensi energi, sementara NCKL perlu memastikan integrasi tambang hingga smelter berjalan optimal.
“Sektor nikel berpotensi memasuki fase konsolidasi. IPOT merekomendasikan buy untuk INCO dengan target harga Rp 8.000 per saham,” ujar David.