
Ifonti.com JAKARTA. Memanasnya konflik di Timur Tengah memicu sentimen risk off di pasar keuangan global.
Kondisi ini mendorong pengelola dana pensiun (dapen) meningkatkan kehati-hatian dalam mengelola dana investasi peserta, terutama pada instrumen saham yang lebih berisiko.
Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Mulyadi mengatakan pasar saham ikut tertekan oleh sentimen negatif akibat konflik tersebut.
Karena itu, pengelola dana pensiun cenderung menahan diri untuk menambah investasi di instrumen saham dalam waktu dekat.
Investasi Dana Pensiun BCA Tetap Konservatif, Porsi Saham Terbuka untuk Naik
Menurut dia, investasi saham kemungkinan baru akan kembali dilakukan ketika kondisi pasar dinilai lebih kondusif dan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Pada fase tersebut, pengelola dapen juga dapat memanfaatkan koreksi harga saham yang terjadi akibat meningkatnya tensi geopolitik.
Bambang menegaskan pengelola dana pensiun tetap dapat memanfaatkan momentum saat valuasi saham menjadi lebih menarik, dengan tetap berfokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat.
“Pengelola dana pensiun bisa memanfaatkan valuasi menarik, tetapi tetap disiplin merealisasikan keuntungan ketika target tercapai,” ujarnya.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan penempatan dana pensiun pada instrumen saham mencapai Rp 23,8 triliun pada akhir 2025. Nilai tersebut turun sekitar 4% dibandingkan posisi tahun sebelumnya.
Di tengah volatilitas pasar global, Bambang menilai pengelola dana pensiun akan semakin mengandalkan instrumen berbasis pendapatan tetap, seperti Surat Berharga Negara (SBN) maupun obligasi korporasi.
Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Peserta Aktif
Namun, pemilihan obligasi korporasi dilakukan secara selektif, terutama pada perusahaan yang dinilai tidak terdampak langsung oleh dinamika geopolitik.
Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan pihaknya tidak mengambil langkah reaktif terhadap gejolak jangka pendek di pasar keuangan. Meski demikian, volatilitas global membuat pihaknya lebih berhati-hati dalam menambah porsi investasi saham.
Di sisi lain, ia melihat peluang pada instrumen pendapatan tetap seiring tingkat imbal hasil (yield) yang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Menurut Budi, kebijakan investasi tetap mengacu pada alokasi aset strategis dan profil risiko peserta dana pensiun.
“Kami berupaya menjaga struktur portofolio tetap stabil di tengah ketidakpastian global,” kata Budi.
Aset Dana Pensiun Bank Mandiri Capai Rp 11,24 Triliun per Juli 2025
Ia menambahkan, apabila terjadi perubahan fundamental yang signifikan di pasar, keputusan investasi akan tetap diambil berdasarkan analisis yang ketat agar stabilitas portofolio tetap terjaga.