Pengendali SIDO pertimbangkan divestasi sebagian saham, siap gandeng investor baru?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemilik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO), perusahaan jamu terbesar di Indonesia tengah mempertimbangkan sejumlah opsi strategis, termasuk divestasi sebagian kepemilikan saham.

“Keluarga Hidayat, yang menguasai sekitar 78% saham Sido Muncul melalui PT Hotel Candi Baru, terbuka untuk menggandeng investor strategis guna membawa bisnis perusahaan ke level yang lebih tinggi,” ujar Komisaris SIDO Venancia Sri Indrijati Wijono dalam laporan Bloomberg,

Sumber yang mengetahui pembahasan ini menyebutkan bahwa keluarga Hidayat selaku pengendali sedang berdiskusi dengan sejumlah bank, dan transaksi tersebut berpotensi memiliki valuasi sekitar US$ 1 miliar. Para sumber meminta identitasnya dirahasiakan karena pembicaraan masih bersifat privat.

Sido Muncul (SIDO) Incar Laba Bersih 8% pada 2026, Cek Prospek Kinerjanya

Venancia mengatakan, minat dari beberapa calon investor tengah dijajaki, namun belum ada langkah lanjutan yang diambil. Ia enggan mengomentari besaran saham yang kemungkinan dilepas, sambil menegaskan bahwa perusahaan tidak terburu-buru dan saat ini fokus utama masih pada peningkatan kinerja

Kejar Laba Bersih Tumbuh 8%

SIDO optimistis dapat menjaga kinerja solid hingga akhir tahun 2026. Emiten produsen jamu dan farmasi ini menargetkan pertumbuhan laba bersih 8% secara tahunan untuk tahun 2026, sejalan dengan proyeksi kenaikan pendapatan di level yang sama.

Target tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi kinerja tahun 2025, di mana pendapatan dan laba SIDO diperkirakan tumbuh sekitar 5%.

Direktur Utama SIDO David Hidayat menyampaikan bahwa pihaknya akan menggenjot berbagai strategi untuk merealisasikan target pendapatan dan laba tahun 2026, mulai dari peluncuran produk baru, penguatan efisiensi biaya, hingga peningkatan porsi penjualan ekspor.

“Kami menargetkan peningkatan pasar ekspor secara bertahap, dengan membuka pasar baru di kawasan Afrika, Asia Tenggara, dan Timur Tengah pada tahun 2026,” kata David kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

David menambahkan, kapasitas produksi SIDO saat ini masih memadai untuk menopang ekspansi penjualan di seluruh lini usaha, termasuk dalam memenuhi permintaan dari pasar ekspor.

Hadapi Tantangan Daya Beli, Begini Prospek Kinerja Sido Muncul (SIDO)

Di sisi pasar domestik, SIDO juga akan memperkuat pangsa pasar dengan memperluas jaringan distribusi dan meluncurkan varian produk anyar. SIDO turut mendorong penetrasi ke kanal modern trade, e-commerce, serta jalur distribusi berbasis komunitas.

SIDO juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 120 miliar hingga Rp 150 miliar di tahun 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk pemeliharaan dan penambahan peralatan produksi guna mendukung pengembangan produk serta peningkatan efisiensi operasional

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai target pertumbuhan laba dan pendapatan SIDO pada 2026 masih realistis. Pasalnya, SIDO memiliki pricing power yang kuat untuk menaikkan harga jual tanpa menggerus permintaan. Ini juga ditopang oleh efisiensi operasional yang mampu menjaga margin tanpa kebutuhan capex yang agresif.

Dari sisi ekspansi, strategi SIDO untuk memperluas pasar ekspor juga dinilai tepat. Pasalnya, pasar domestik mulai memasuki fase matang.

“Jadi ekspansi ke negara yang karakter demografinya mirip bisa jadi mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan secara trend jangka menengah, pergerakan saham SIDO masih dalam trend yang cenderung bearish. Saat ini harga sedang menguji bertahan diatas garis MA2OO pada level Rp 535. 

“Sampai saat ini, tanda-tanda reversal dari segi volume yang masih cenderung belum meningkat,” ujar Reza kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Sido Muncul (SIDO) Catat Kinerja Positif hingga September 2025, Cek Rekomendasinya

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pergerakan SIDO masih dalam konsolidasi dalam jangka pendek dan disertai dengan adanya peningkatan volume pembelian.

“MACD masih flat di area negatif dengan Stochastic yang berpeluang goldencross di area netral,” ucap Herditya kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Rekomendasi Saham

Herditya menyarankan trading buy saham SIDO di target harga Rp 565-Rp 590 per saham. Ia melihat level support saham SIDO berada di  Rp 535 dan resistance Rp 555  per saham. 

Secara jangka panjang, Reza merekomendasikan untuk menunggu konfirmasi reversal dengan menunggu stabil harga diatas garis MA200-nya pada Rp 535 dan mampu untuk menembus resistance terdekatnya pada Rp 600. Ketika mampu break di atas level tersebut, maka target selajutnya berada pada level Rp 670 – Rp 770 per saham

Adapun Wafi menyarankan, buy saham SIDO di target harga Rp 780 per saham.

Hingga akhir perdagangan Rabu (14/1/2026), saham SIDO berada di level Rp 545 per saham atau menguat tipis 0,93% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Dalam setahun terakhir, saham SIDO terkoreksi 6,84%.