Persaingan normal, harga mulai naik, prospek semen kian cerah di 2026

Ifonti.com  JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia menilai prospek sektor semen nasional tetap positif pada 2026, seiring dengan potensi pemulihan volume penjualan dan membaiknya disiplin harga di tengah normalisasi persaingan industri.

Dalam riset yang diterbitkan pada 5 Februari 2026, analis Maybank Sekuritas Kevin Halim mengungkapkan bahwa permintaan semen sepanjang 2025 memang masih terkontraksi sekitar 2% secara tahunan, terutama akibat lemahnya penjualan semen curah (bulk) yang turun 8% secara year on year (yoy). Namun demikian, permintaan semen kemasan (bag) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan awal dengan pertumbuhan 1% YoY.

“Ke depan, kami lebih optimistis terhadap pertumbuhan permintaan semen pada 2026. Aktivitas pembangunan ibu kota baru (IKN) yang telah ternormalisasi pada 2025 memberikan basis perbandingan yang lebih bersih, khususnya untuk volume semen curah, sementara permintaan semen kemasan diperkirakan melanjutkan pemulihan secara bertahap,” tulis Kevin dalam riset.

Ini Alasan Utama BEI Membuka Data Kepemilikan Saham Hanya Hingga 1%

Selain itu, sejumlah program pemerintah dinilai berpotensi menjadi katalis positif bagi permintaan semen, antara lain program pembangunan tiga juta rumah, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), program renovasi perumahan, serta berbagai proyek infrastruktur besar seperti pembangunan giant seawall. Maybank Sekuritas memproyeksikan volume penjualan semen nasional tumbuh sekitar 2% secara yoi pada 2026.

Dengan kondisi persaingan yang mulai normal, valuasi saham yang dinilai sudah terlalu tertekan, serta dukungan imbal hasil dividen yang menarik, Kevin mempertahankan pandangan positif untuk sektor semen.

 Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) ditetapkan sebagai top pick, didukung oleh visibilitas laba yang kuat serta komitmen pengembalian kepada pemegang saham melalui dividen dan buyback saham.

Tekanan terhadap pangsa pasar pemain lama sejak masuknya pabrik baru seperti Singa Merah dan Grobogan pada 2021–2022 dinilai mulai mereda. Pada 2025, pangsa pasar gabungan Semen Indonesia (SMGR) dan INTP relatif stabil di kisaran 77%–78%, mengindikasikan bahwa penurunan pangsa pasar telah mencapai titik terendah.

Singa Merah kini telah beroperasi pada tingkat utilisasi yang sehat sekitar 70%, sementara Grobogan telah berada di bawah kepemilikan INTP. Yang tak kalah penting, para pemain lama juga telah menerapkan kenaikan harga terkoordinasi sekitar 2–4% pada paruh kedua 2025, baik untuk merek utama maupun merek tanding, mencerminkan meningkatnya disiplin harga di industri.

Pemerintah Siap Gelar Pertemuan Lanjutan dengan MSCI Usai IHSG Anjlok

Kevin memperkirakan kinerja laba SMGR dan INTP pada 2025 akan sejalan dengan ekspektasi pasar. Dengan asumsi kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 0,5%–1% dan biaya kas yang relatif stabil, laba kuartal IV 2025 diproyeksikan mencapai Rp198 miliar untuk SMGR dan Rp 693 miliar untuk INTP.

Secara keseluruhan, pada tahun 2025 menjadi titik terendah siklus laba, dengan pemulihan volume penjualan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja pada 2026. Risiko utama yang tetap perlu dicermati adalah potensi penguatan dolar AS terhadap rupiah, mengingat sekitar 50%–60% struktur biaya sektor ini berbasis dolar AS.

Dari sisi valuasi, sektor semen saat ini diperdagangkan di kisaran 5x EV/EBITDA 2026, atau sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, dengan EV per kapasitas hanya US$ 30–US$ 40 per ton. Angka ini mencerminkan diskon 60%–70% terhadap biaya penggantian, mendekati level terendah historis.

“Valuasi sektor saat ini bahkan setara dengan pasar yang secara struktural menurun seperti China dan Jepang, serta berada di bawah rekan regional seperti Thailand dan Malaysia,” jelas Kevin.

Dengan imbal hasil dividen sekitar 2%–4% dan potensi tambahan dari posisi kas yang sehat serta arus kas bebas yang kuat, khususnya pada INTP Maybank Sekuritas menilai sektor semen menawarkan peluang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Saham INTP diberi rekomendasi buy dengan target harga di Rp 8.800 per saham. Sedangkan saham SMGR diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.500 per saham.

Pemerintah Siap Gelar Pertemuan Lanjutan dengan MSCI Usai IHSG Anjlok