
Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/1/2026).
Tekanan tersebut dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor permintaan dolar di dalam negeri serta aksi ambil untung investor global, meskipun kondisi fundamental domestik dinilai relatif solid.
Kamis (8/1/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.798 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,11% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 16.780 per dolar AS. Posisi ini juga jadi yang terburuk sejak April 2025.
Sejalan dengan itu, kurs rupiah JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) juga dicatat melemah 0,09% jadi Rp 16.801 per dolar AS.
Rupiah Masih Tertekan pada Awal 2026, Cermati Pemicunya
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu berbagai sentimen global.
“Rupiah memang masih under pressure. Ada kemungkinan karena permintaan dolar domestik yang tinggi untuk bayar utang dan impor, serta adanya profit taking pelaku pasar global yang keluar dari pasar saham dan obligasi,” ujar Myrdal kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
Meski demikian, dari sisi domestik, Myrdal menilai kondisi ekonomi Indonesia sejatinya berada dalam tren yang cukup positif. Ia menyoroti realisasi defisit fiskal Indonesia pada 2025 yang masih terjaga di level 2,92% dari produk domestik bruto (PDB), jauh di bawah batas aman 3%.
Selain itu, lonjakan cadangan devisa pada Desember lalu turut menjadi faktor penopang fundamental rupiah.
Kendati begitu, Myrdal mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga defisit fiskal tahun 2026 agar tidak menembus batas 3%, meskipun prospek ekonomi domestik tahun ini dinilai cukup optimistis.
Untuk pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (9/1/2026), Myrdal memperkirakan tekanan masih akan berlanjut.
Rupiah Terpuruk ke Level Terburuk Sejak April 2025, Simak Proyeksinya Jumat (9/1)
Ada pun sentimen global masih akan menjadi perhatian utama pelaku pasar, terutama menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat seperti initial jobless claims dan non-farm payrolls (NFP). Meski data NFP baru dirilis Jumat malam waktu setempat, potensi aksi profit taking pada akhir pekan dinilai tetap tinggi.
Myrdal membidik rupiah pada Jumat (9/1/2026) akan bergerak di kisaran Rp 16.738 – Rp 16.832 per dolar AS.