
Ifonti.com JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mencatatkan pendapatan yang bertumbuh sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangannya, perseroan berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun, mengalami kenaikan sebesar 1,31% year-on-year (YoY).
Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty mengatakan peningkatan pendapatan didorong oleh kontribusi signifikan dari segmen rutin dan esoterik.
“Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kontribusi signifikan dari segmen pemeriksaan rutin yang tetap menjadi tulang punggung bisnis, serta peningkatan permintaan pada layanan esoterik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (12/3/2026).
Prospek Saham Prodia (PRDA) 2026 Menjanjikan, Ini Kata Analis
Kenaikan ini, lanjutnya, juga menunjukkan keberhasilan strategi perseroan dalam menjaga loyalitas pelanggan serta memperluas penetrasi pasar.
Di sisi lain, beban pokok penjualan (COGS) tercatat Rp 949 miliar, meningkat 5,42% YoY, seiring dengan peningkatan volume tes dan ekspansi layanan di berbagai wilayah.
Dewi menyebut, peningkatan biaya ini turut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan medis, reagen, serta investasi pada kualitas layanan dan teknologi diagnostik.
Prodia (PRDA) Bukukan Pendapatan Rp 2,28 Triliun di 2025, Siap Ekspansi Tahun Ini
Hal ini berdampak pada laba kotor yang tercatat turun 1,43% YoY menjadi Rp 1,33 triliun.
Meski demikian, perseroan tetap menjaga profitabilitas operasional dengan mencatatkan laba usaha (EBIT) sebesar Rp 225 miliar dan laba sebelum pajak (EBT) tercatat Rp 264 miliar.
“Hal ini menunjukkan efektivitas pengendalian biaya operasional di luar COGS serta disiplin dalam manajemen beban usaha,” ujar Dewi.
Dengan beban pajak pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 58 miliar, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 207 miliar.
Adapun perseroan merealisasikan belanja modal (Capex) lebih dari Rp 165 miliar pada tahun 2025, yang difokuskan pada pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.
“Investasi ini menjadi pondasi penting dalam memperkuat daya saing, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung strategi ekspansi yang berkelanjutan di masa mendatang,” ungkap Dewi.
Prospek Prodia (PRDA) dan Diagnos (DGNS) 2026 Tetap Positif, Cek Rekomendasinya
Strategi bisnis Prodia pada 2026
Dewi melanjutkan, pada tahun ini, perseroan akan memperkuat pengembangan precision medicine melalui ekspansi specialty clinic di bidang Stem Cell, Autoimmune, dan Longevity, serta penguatan ekosistem digital, yakni U by Prodia, Prodia for Doctor, dan WebPortal. Hal ini guna meningkatkan engagement pelanggan sekaligus menghadirkan akses layanan yang lebih terintegrasi.
Pada saat yang sama, Prodia juga memprioritaskan pengembangan pemeriksaan esoterik dan diagnostik klinis kompleks melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) by Mass Spectrometry Technology yang didukung Clinical Decision Support (CDS).
Menurut Dewi, langkah ini sebagai upaya mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Dengan kapabilitas dan infrastruktur laboratorium diagnostik yang komprehensif serta pengalaman panjang dalam pengujian diagnostik, kami berada pada posisi yang kuat untuk memimpin pengembangan layanan berbasis precision medicine di Indonesia,” jelasnya.
Prodia (PRDA) Perkuat Layanan Stem Cell dan Ekspansi Regional Pacu Kinerja di 2026