Prospek emiten energi grup Pertamina mulai menguat, ini rekomendasi saham dari analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten energi di bawah naungan PT Pertamina (Persero), yakni PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Elnusa Tbk (ELSA), mulai menunjukkan perbaikan memasuki kuartal II-2026.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, kinerja ketiga emiten tersebut pada 2025 masih menghadapi sejumlah tekanan sehingga menjadi fase konsolidasi sebelum memasuki periode pertumbuhan.

“Sepanjang 2025, PGAS tertekan dari sisi margin akibat kenaikan biaya pasokan, terutama pergeseran ke LNG yang lebih mahal. PGEO terdampak rugi selisih kurs dan beban keuangan berbasis dolar, sementara ELSA relatif lebih defensif namun tetap terkena kenaikan biaya operasional,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Memasuki 2026, Hendra melihat arah perbaikan mulai terlihat seiring strategi transformasi yang dijalankan masing-masing emiten.

IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Berpotensi Lanjutkan Fase Bearish

PGAS, misalnya, mulai mendorong ekspansi ke segmen gas industri melalui Pertagas serta membuka peluang bisnis energi masa depan seperti hidrogen dan biometana.

Sementara itu, PGEO melanjutkan ekspansi kapasitas melalui proyek panas bumi seperti Lumut Balai yang menjadi bagian dari roadmap peningkatan kapasitas hingga 1 gigawatt.

Adapun ELSA mengedepankan efisiensi sebagai operator berbiaya rendah yang dinilai mampu memberikan dampak cepat terhadap peningkatan margin.

“Efisiensi ELSA paling cepat tercermin ke laba, ekspansi PGAS berdampak menengah, sedangkan PGEO menjadi motor pertumbuhan jangka panjang,” jelasnya.

Dari sisi eksternal, volatilitas harga minyak dan pelemahan rupiah memberikan dampak yang beragam bagi ketiga emiten tersebut.

Rugi Fast Food (FAST) Menyusut 54,05% pada Tahun 2025, Intip Prospeknya ke Depan

PGAS dinilai menghadapi tekanan margin karena harga gas tidak sepenuhnya fleksibel mengikuti kenaikan biaya pasokan. PGEO juga sensitif terhadap pergerakan kurs karena struktur pembiayaan berbasis dolar.

Sebaliknya, ELSA cenderung diuntungkan dalam kondisi harga minyak tinggi karena meningkatnya aktivitas eksplorasi dan produksi migas.

“ELSA menjadi yang paling resilien dalam jangka pendek karena diuntungkan oleh siklus harga minyak,” imbuh Hendra.

Dalam konteks transisi energi, PGEO dinilai menjadi penerima manfaat utama karena fokus pada energi terbarukan. Sementara PGAS berperan sebagai energi transisi, dan ELSA tetap relevan melalui efisiensi di sektor energi konvensional.

  ELSA Chart by TradingView  

Secara rekomendasi, Hendra menilai saham PGAS layak menjadi pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp2.050.

Sementara itu, ELSA direkomendasikan speculative buy dengan target Rp800, serta PGEO juga speculative buy dengan target Rp1.105.

“Ketiganya berpotensi memasuki fase re-rating, selama eksekusi strategi berjalan konsisten dan tekanan makro mulai mereda,” tutupnya.