
Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi masih dalam tekanan setelah ditutup melemah pada Senin (12/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,21% secara harian ke Rp 16.855 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,11% secara harian ke Rp 16.853 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari Senin, sejalan dengan data tenaga kerja AS yang membaik.
Tidak hanya dari AS, ketidakpastian global juga meningkat pasca rilis pernyataan dari Chairman the Fed, Jerome Powell, terkait dengan kriminalisasi dirinya akibat menolak menurunkan suku bunga.
Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Investor Bisa Eksekusi Trailing Stop Bertahap
“Pada hari Selasa (13/1/2026), rupiah diperkirakan masih akan di bawah tekanan akibat dari sentimen global yang berisiko belum membaik,” ucap Josua kepada Kontan, Senin (12/1/2026).
Josua memperkirakan, rupiah pada Selasa (13/1/2026) bergerak dalam rentang Rp 16.800 – Rp 16.900 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar AS, meskipun dolar sendiri juga tertekan cukup signifikan di tengah kekhawatiran potensi intervensi pemerintah AS terhadap The Fed.
Pelemahan rupiah menegaskan bahwa sentimen terhadap rupiah yang masih negatif, terutama terkait defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia.
“Kenaikan penjualan ritel yang melampaui perkiraan pun gagal memberikan dukungan berarti bagi rupiah,” ucap Lukman kepada Kontan, Senin (12/1/2026).
Jual di Harga Pucuk, Pengendali Diamond Citra (DADA) Kantongi Cuan Rp 38,40 Miliar
Lukman memperkirakan, rupiah masih akan melemah, mengingat investor umumnya hati – hati dan menghindari mata uang berisiko menjelang data penting inflasi AS besok. Lukman memproyeksikan rupiah di kisaran Rp 16.800 – Rp 16.900 per dolar AS untuk hari ini.