
Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir, di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan sentimen domestik yang masih membayangi.
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,08% secara harian ke Rp 16.837 per dolar AS pada Selasa (17/2/2026). Adapun sebelumnya pada sepekan terakhir, Jumat (13/2/2026), rupiah berada di level Rp 16.836, menguat 0,23% dari posisinya di Rp 16.876 per dolar pada Jumat (6/2/2026).
Sementara itu, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,10% secara harian ke Rp 16.844 per dolar AS pada Jumat (13/2/2026). Dalam sepekan, rupiah Jisdor menguat 0,25% dari posisinya di Rp 16.887 per dolar AS pada Jumat (6/2/2026).
Rupiah Menguat ke Rp 16.825 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (16/2), Yen Anjlok
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, berpandangan penguatan rupiah di akhir pekan lalu ini seiring pelemahan mata uang Negeri Paman Sam setelah rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan pasar.
Menurutnya, pelemahan dolar AS tersebut memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Namun, apresiasi rupiah relatif terbatas karena sentimen domestik masih cenderung negatif.
“Namun ini merupakan penguatan terbatas mengingat sentimen domestik umumnya masih negatif dan pelemahan dolar juga tidak terlalu besar,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (16/2/2026).
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 16.833 Per Dolar AS Hari Ini (16/2), Mayoritas Asia Naik
Ia menambahkan, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih akan cenderung berkonsolidasi. Hal ini seiring minimnya katalis baru, terutama karena mayoritas pasar Asia tengah libur dan tidak ada rilis data ekonomi penting pada perdagangan besok.
Untuk perdagangan Rabu (18/2/2026), Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.750 – Rp 16.900 per dolar AS.