Rupiah loyo hingga dolar AS nyaris tembus Rp 17.100, apa risiko ke ekonomi RI?

Nilai tukar rupiah melemah hingga nyaris menembus Rp 17.100 per dolar AS pada perdagangan siang ini, Selasa (7/4). Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah melemah 0,35% ke level 17.094 per dolar AS pada pukul 14.26 WIB.

Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef Muhammad Rizal Taufikurahman menilai, pelemahan rupiah mendekati level 17.100 per dolar AS hari ini disebabkan oleh dua faktor, yakni global dan domestik. 

Ia menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah,  terutama perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel membuat harga minyak melonjak dan memperkuat dolar AS. Kondisi ini turut menyebabkan arus modal global keluar dari negara berkembang.

Namun demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dalam dibandingkan mata uang negara sejenis, yang menandakan adanya faktor domestik yang turut memperburuk kondisi.

“Ini mengindikasikan bahwa faktor domestik ikut memperbesar depresiasi, bukan sekadar transmisi dari global shock,” ujar Rizal kepada Katadata.co.id, Selasa (7/1). 

Ia menjelaskan, surplus perdagangan mulai menyempit akibat perlambatan ekspor. Pada Februari 2026, ekspor tercatat hanya tumbuh sekitar 1%, sedangkan impor meningkat seiring kenaikan harga energi.

Di sisi fiskal, defisit APBN hingga Maret 2026 telah mencapai sekitar Rp 240 triliun. Hal ini memunculkan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan pembiayaan fiskal.

Tekanan juga terlihat di pasar SBN, di mana investor asing mencatat aksi jual bersih sekitar Rp 3,35 triliun hingga akhir Februari 2026. Selain itu, perubahan outlook lembaga pemeringkat menjadi negatif turut memperbesar persepsi risiko terhadap aset rupiah.

Rizal juga menyoroti penurunan cadangan devisa Indonesia dari sekitar US$ 154,6 miliar menjadi US$ 151,9 miliar pada Februari 2026 sebagai indikasi adanya biaya besar dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Kombinasi ini menekan persepsi risiko dan memperlemah daya tarik aset rupiah,” katanya.

Posisi rupiah saat ini semakin jauh dari asumsi awal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini, menurut dia, dapat memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional. 

Dampak Pelemahan Rupiah ke APBN

Berdasarkan proyeksi perubahan indikator asumsi makro dalam sensitivitas APBN 2026,  setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp 100 per dolar AS menaikkan pendapatan negara sekitar Rp 5,3 triliun, sekaligus belanja negara Rp 6,1 triliun. Dengan demikian, bakal ada tambahan defisit sekitar Rp 800 miliar setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS.

Adapun pemerintah mematok asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah diperdagangkan dalam rentang 16.687 hingga 16.094 per dolar AS. 

Intervensi BI Tak Cukup

Rizal menilai langkah intervensi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia melalui pasar spot, DNDF, dan pembelian surat berharga negara (SBN) memang tepat untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan tanpa dukungan kebijakan yang lebih kuat dan terintegrasi.

“Bank Indonesia perlu menjaga daya tarik suku bunga dan kredibilitas kebijakan, sementara pemerintah harus menahan ekspansi fiskal agar tidak memperdalam persepsi risiko,” ujar Rizal.

Tanpa perbaikan fundamental khususnya pada neraca eksternal dan disiplin fiskal, menurut intervensi moneter hanya akan bersifat defensif, bukan solusi yang menyentuh akar persoalan.