Rupiah makin dekat level 17.000, BI tegaskan terus jaga stabilitas

Ifonti.com – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah. Upaya intervensi terus dilakukan untuk meminimalisasi dampak meluas dari konflik tersebut.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah,” ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam keterangan resmi kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).

Destry menjelaskan, sejauh ini pelemahan rupiah masih aligned dengan mata uang regional. Tercatat secara month to date (mtd), rupiah melemah 0,51 persen dan diklaim relatif lebih baik dibandingkan regional. Posisi nilai tukar rupiah pada Rabu (4/3/2026) pukul 11.00 WIB terpantau bergerak di level Rp 16.902 per dolar AS atau mendekati Rp 17.000 per dolar AS.

“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry.

Rupiah diyakini masih relatif baik seiring dengan terjaganya cadangan devisa. BI mencatat posisi cadangan devisa mencapai 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026. Adapun arus modal asing di pasar keuangan domestik selama 2026 tercatat mencapai Rp 25,7 triliun.

Petugas menghitung uang dollar AS di tempat penukaran valuta asing. – (Republika/Thoudy Badai)

Sementara itu, Pemerintah memastikan kondisi anggaran negara masih cukup kuat menghadapi eskalasi global, termasuk potensi kenaikan harga minyak dunia. Selama gejolak tidak berlangsung ekstrem, dampaknya dinilai masih bisa diserap dalam APBN tahun berjalan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario harga minyak untuk satu tahun ke depan. Perhitungan itu menjadi dasar dalam menjaga ketahanan fiskal di tengah ketidakpastian global.

“Kalau krisis seperti ini berkepanjangan, tahan tidak anggarannya, anggarannya seperti apa. Kalau analisis kami yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi tidak ada masalah,” ujar Purbaya di Istana, Selasa (3/3/2026) malam.

Menurut dia, kinerja penerimaan negara menunjukkan perbaikan signifikan pada awal tahun. Penerimaan pajak dan bea cukai pada Januari–Februari 2026 disebut tumbuh sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Itu angka yang signifikan sekali. Artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai,” katanya.

Ia menegaskan pemerintah telah menghitung skenario kenaikan harga minyak pada level tertentu selama satu tahun anggaran. Selama kenaikan masih dalam batas simulasi, APBN dinilai mampu menyerap tekanan tersebut.

“Jadi masih bisa diserap kalau harga minyak naik. Kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang,” ujarnya.