
Ifonti.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah di akhir pekan lalu, hampir mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
Melansir data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,12% ke level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026).
Sejalan dengan itu, rupiah JISDOR Bank Indonesia (BI) melemah Rp 33 atau 0,20% menjadi Rp 16.919 per dolar AS.
Konflik Israel–Iran Memanas, Mata Uang Safe Haven Diprediksi Menguat
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah pada akhir pekan lalu dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Menurutnya, salah satu faktor yang menjadi sorotan lembaga pemeringkat adalah rendahnya rasio pajak (tax ratio) Indonesia.
“Pemerintah berupaya mengerek tax ratio karena menjadi salah satu pertimbangan Fitch dalam menurunkan outlook Indonesia. Dalam satu dekade terakhir tax ratio Indonesia hanya berada di kisaran 9%–10% terhadap PDB,” ujar Ibrahim, Jumat (6/3).
Bahkan, tax ratio Indonesia tercatat menurun dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025.
Sementara itu, Fitch memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3% pada periode 2026–2027.
Angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan median negara dengan peringkat setara kategori BBB yang berada di level 25,5% terhadap PDB.
Saat Daya Beli Turun, Saham Ritel MIDI, MAPI, MAPA, ACES Mana yang Menarik?
Dari sisi global, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak dunia juga turut menambah tekanan terhadap pergerakan rupiah. Harga minyak melonjak seiring meningkatnya risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk akibat konflik geopolitik.
Lonjakan harga minyak mentah ini memicu kekhawatiran akan munculnya gelombang inflasi global baru.
Kondisi tersebut berpotensi mempersulit langkah bank sentral global, termasuk bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pada awal pekan depan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payrolls (NFP) Februari.
“Investor kini mengalihkan perhatian mereka ke laporan data pekerjaan non-pertanian AS bulan Februari yang akan dirilis Jumat nanti, yang dapat memberikan sinyal baru tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter,” jelasnya.
Untuk perdagangan Senin (9/3/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.600 hingga Rp 16.920 per dolar AS.