
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah di pasar spot berbalik menguat ke level Rp 16.983 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (1/4), setelah sebelumnya menyentuh Rp 17.041 per dolar AS pada penutupan Selasa (31/3). Sehari sebelumnya, Senin (30/3), rupiah juga sempat berada di level Rp 17.002 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai secara historis pelemahan rupiah tidak terlepas dari kombinasi triple shock.
Pertama, lonjakan harga minyak global yang memperlebar defisit transaksi berjalan. Kedua, penguatan Dolar akibat tertundanya pemangkasan suku bunga Fed. Ketiga, sentimen domestik terkait risiko fiskal.
Fitch Revisi Harga Komoditas pada Tahun 2026, Berikut Catatan Analis
“Pasar mencermati dengan saksama rencana program makan gratis yang masif di tengah revisi outlook negatif dari Moody’s dan Fitch. Kekhawatiran bahwa defisit anggaran akan melampaui batas aman 3% menciptakan tekanan jual pada obligasi negara yang secara langsung memicu aliran modal keluar (capital outflow),” kata Sutopo, Rabu (1/4/2026).
Dari sisi global, tekanan terhadap rupiah juga dinilai masih kuat. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menyebut penguatan dolar AS dan ketidakpastian global mendorong aliran dana kembali ke aset safe haven.
“Kondisi ini dapat memberi tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah,” ujar Amru.
Sementara itu, dari sisi domestik, kebijakan Bank Indonesia melalui instrumen seperti Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas serta likuiditas valas di dalam negeri, meskipun belum cukup untuk mengubah arah pergerakan utama rupiah.
Amru menambahkan, fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil masih menjadi penopang bagi rupiah agar tidak tertekan lebih dalam. Meski demikian, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap volatil dan sangat dipengaruhi dinamika global.