
Ifonti.com – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah hingga akhir tahun 2026 diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen global maupun domestik.
Tekanan terhadap mata uang Garuda pun dinilai masih berpotensi terjadi, terutama pada semester pertama tahun ini.
Mengutip data Bloomberg, Senin (16/3/2026) pukul 14.40 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,25% secara harian ke level Rp 17.000 per dolar AS. Sebelumnya pada Jumat (13/3/2026), rupiah juga sudah tertekan 0,38% ke posisi Rp 16.958 per dolar AS.
Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan. Pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 16.997 per dolar AS atau melemah 0,23% dibandingkan penutupan Jumat (13/3/2026) yang berada di Rp 16.958 per dolar AS.
Rupiah Melemah ke Rp 16.893 per Dolar AS, Ini Proyeksinya untuk Jumat (13/3)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai terdapat sejumlah faktor utama yang akan menjadi penggerak rupiah ke depan.
Salah satunya adalah perkembangan konflik geopolitik global yang berpotensi memengaruhi volatilitas harga energi dunia.
Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik dapat mendorong kenaikan harga energi, khususnya minyak, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut biasanya memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, arah kebijakan moneter bank sentral AS juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan dinamika arus modal global.
Kebijakan suku bunga yang masih relatif tinggi di AS berpotensi membuat investor global tetap menempatkan dananya pada aset berdenominasi dolar.
Rupiah Diproyeksi Kembali Melemah Hari Ini (9/3): Ancaman ke Rp 17.000
“Dan kemudian adalah faktor domestik seperti stabilitas fiskal serta kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (16/3/2026).
Untuk semester pertama 2026, Yusuf memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam tekanan dengan tingkat volatilitas yang relatif tinggi. Dalam skenario dasar, pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Dengan kisaran tersebut, ia menilai tidak tertutup kemungkinan rupiah kembali menembus level Rp 17.000 per dolar AS pada periode tertentu. Hal itu terutama dapat terjadi jika tensi geopolitik kembali meningkat atau harga minyak dunia melonjak lebih tinggi.
Meski demikian, pelemahan tersebut dinilai berpotensi bersifat sementara apabila stabilitas pasar global mulai membaik dan kebijakan stabilisasi domestik berjalan efektif.
Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara
“Dalam konteks itu, level Rp 17.000 lebih mencerminkan batas psikologis pasar daripada perubahan drastis dalam fundamental ekonomi Indonesia,” pungkasnya.