
Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga energi. Rupiah di pasar spot kembali melemah dan catat rekor terburuk pada hari ini.
Selasa (31/3/2026), rupiah spot ditutup menembus level Rp 17.041 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,23% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.002 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,035% secara harian ke Rp 16.999 per dolar AS.
Harga Emas Mulai Pulih, Ini Pilihan Instrumen yang Tepat untuk Investor
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur tersebut diketahui menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.
“Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendorong harga Brent berjangka naik 59% sejauh ini pada bulan Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada,” jelas Ibrahim, Selasa (31/3/2026).
Sementara itu, harga minyak WTI juga melonjak 58% pada periode yang sama, tertinggi sejak Mei 2020.
Di sisi lain, ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan akan menghancurkan fasilitas energi Iran apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka.
Pernyataan ini muncul di tengah penolakan Iran terhadap proposal perdamaian AS serta meningkatnya serangan di kawasan tersebut.
Meski demikian, Gedung Putih menyatakan bahwa komunikasi dengan Iran masih terus berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif, meskipun terdapat perbedaan antara pernyataan publik dan komunikasi tertutup.
Dari sisi domestik, Ibrahim melihat sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Keyakinan konsumen pada Februari 2026 tercatat tinggi di level 125,2, penjualan ritel menguat, serta PMI manufaktur berada di level ekspansif 53,8.
Rupiah Tak Berdaya DiTutup Lemah Rp 17.041 Selasa (31/3), Waspada Tekanan Lanjutan
Selain itu, belanja negara yang tumbuh pesat di awal tahun turut memberikan dorongan dari sisi permintaan. Namun, ia mengingatkan bahwa struktur pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi belum sepenuhnya sehat untuk jangka panjang.
Untuk perdagangan Rabu (1/4/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak terbatas di kisaran Rp 17.040 hingga Rp 17.070 per dolar AS.