Ifonti.com JAKARTA. Kurs rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan, tertekan oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang didorong oleh serangkaian data ekonomi AS yang positif.
Menurut lansiran Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot menutup perdagangan pada Jumat (29/8/2025) di level Rp 16.500 per dolar AS. Catatan ini menandai pelemahan sebesar 0,90% dalam sepekan dibandingkan posisi akhir perdagangan pekan sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan data Jisdor BI, rupiah pada tanggal yang sama ditutup pada Rp 16.461 per dolar AS, menunjukkan pelemahan 0,74% dalam kurun waktu satu minggu.
Rupiah Spot Anjlok 0,89% ke Rp 16.500 per Dolar AS Jumat (29/8), Terlemah di Asia
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS ini tidak terlepas dari data ekonomi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi. Ekonomi AS dilaporkan bertumbuh pesat pada kuartal II-2025, melampaui proyeksi awal. Selain itu, penurunan jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran turut mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja di negeri Paman Sam.
Meskipun demikian, Ibrahim juga mencermati adanya penguatan dolar AS yang terjadi seiring pernyataan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, yang mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan September 2025. Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang kompleks, di mana sentimen positif terhadap data ekonomi lebih dominan dibandingkan potensi kebijakan pelonggaran moneter.
Di sisi domestik, Ibrahim menyoroti bahwa ketegangan sosial dan politik yang memanas sejak Kamis (28/8/2025) diprediksi akan terus mendominasi sentimen dalam negeri pada pekan mendatang. Situasi ini diperparah dengan beberapa isu yang menciptakan gejolak, seperti rencana pemberian tunjangan perumahan kepada DPR yang memicu ketegangan di masyarakat.
Tidak hanya itu, menurut Ibrahim, adanya korban jiwa dalam aksi demonstrasi juga turut mengeskalasi kondisi domestik. Berbagai faktor ini secara kolektif memberikan tekanan tambahan pada mata uang Garuda. Oleh karena itu, Ibrahim memproyeksikan bahwa pada pekan depan, mata uang rupiah akan bergerak dalam rentang yang ketat, yaitu antara Rp 16.490 hingga Rp 16.520 per dolar AS.