Rupiah terpuruk ke level terburuk sejak April 2025, simak proyeksinya Jumat (9/1)

Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Tekanan eksternal masih menjadi faktor utama, seiring menguatnya dolar AS yang didukung rilis data ekonomi Amerika yang solid.

Kamis (8/1/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.798 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,11% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 16.780 per dolar AS. Posisi ini juga jadi yang terburuk sejak April 2025.

Sejalan dengan itu, kurs rupiah JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) juga dicatat melemah 0,09% jadi Rp 16.801 per dolar AS.

IHSG Tergelincir 0,22% ke 8.925, Top Losers LQ45: ANTM, ADMR dan NCKL, Kamis (8/1)

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh data ISM Services AS yang lebih kuat dari ekspektasi. Di sisi lain, sentimen domestik belum mampu memberikan dukungan berarti bagi rupiah.

“Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat didukung oleh data ISM services yang kuat. Data yang menunjukkan kenaikan cukup besar pada cadangan devisa Indonesia juga belum terlalu memberikan dukungan,” ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, rupiah masih terbebani oleh prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI). Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tersebut membuat daya tarik aset berdenominasi rupiah relatif berkurang di mata investor global.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Lukman menilai pelaku pasar akan kembali bersikap wait and see dengan mencermati rilis sejumlah data penting, terutama data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP), serta indeks kepercayaan konsumen Indonesia.

Vale Indonesia (INCO) Gelontorkan US$ 1,51 Juta untuk Eksplorasi Nikel Akhir 2025

Pun Lukman bilang, ke depan Bank Indonesia (BI) berpotensi kembali melakukan intervensi apabila nilai tukar rupiah semakin mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS.

Untuk perdagangan Jumat (9/1/2026), Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.750 – Rp 16.850 per dolar AS.