
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham perbankan masih belum bergairah di akhir perdagangan perdana tahun 2026. Di mana, saham bank berkapitalisasi pasar besar alias big banks kompak ditutup melemah pada Jumat (2/1/2026).
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan koreksi terdalam setelah ditutup melemah 2,52% secara harian menjadi Rp 4.260. Disusul, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terkoreksi 0,62% menjadi Rp 8.025.
Lalu ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 0,55% menjadi Rp 3.640, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melesu usai ditutup turun 0,49% menjadi Rp 5.075.
Perbankan Berupaya Menjaga Efisiensi Operasional
Sejumlah bank lapis dua juga menunjukkan tren serupa. Yang mana, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 1,28% menjadi Rp 1.160, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) anjlok 3,14% ke Rp 2.160, dan PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) turun 1,12% menjadi Rp 1.770.
Dari sisi bank digital, beberapa juga tak berhasil merangkak naik. Misal, PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang koreksi 0,25% menjadi Rp 1.970 dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) yang koreksi 0,34% menjadi Rp 1.485, serta PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) yang stabil masing-masing di level Rp 480 dan Rp 220.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, pergerakan saham perbankan yang cenderung lesu di awal perdagangan tahun 2026 lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal dan minimnya sentimen baru, bukan karena perubahan fundamental sektor. Menurutnya, pasar masih berada dalam fase penyesuaian pasca reli selektif di akhir 2025.
“Pasar baru memasuki hari-hari awal perdagangan, sehingga investor masih melakukan rebalancing portofolio. Sikap wait and see juga cukup dominan karena belum ada katalis kebijakan maupun kinerja yang benar-benar baru,” jelas Ekky kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).
Ia menegaskan, kondisi tersebut belum mencerminkan perubahan fundamental pada sektor perbankan secara keseluruhan.
Sepanjang 2025, kinerja saham big banks memang relatif tertinggal. Hal ini dipicu oleh tekanan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), kenaikan cost of fund, serta sikap investor asing yang cenderung berhati-hati. Sebaliknya, saham bank digital dan bank kecil justru mencatatkan penguatan signifikan.
Sementara kenaikan saham bank digital sepanjang 2025 lebih banyak didorong oleh low base effect, ekspektasi pertumbuhan yang tinggi, serta sentimen turnaround. Namun, tren tersebut berpotensi berubah pada 2026.
“Pasar akan kembali lebih rasional dan mulai menuntut kualitas laba yang nyata,” kata Ekky.
OJK Restrukturisasi Kredit Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatera hingga 3 Tahun
Memasuki 2026, Ekky melihat peluang bagi saham big banks untuk mengejar ketertinggalan. Potensi penurunan suku bunga, stabilisasi NIM, serta pemulihan pertumbuhan kredit dinilai dapat menjadi katalis positif.
Sementara itu, saham bank digital masih berpeluang menarik, tetapi penguatannya diperkirakan tidak seagresif tahun lalu dan akan jauh lebih selektif, bergantung pada realisasi profitabilitas dan perbaikan fundamental yang konkret.
Secara khusus untuk saham bank-bank milik pemerintah, Ekky bilang rencana penarikan sebagian dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah berpotensi menjadi tekanan jangka pendek. Pasalnya, dana SAL selama ini berkontribusi terhadap likuiditas murah perbankan.
Meski demikian, ia menilai dampak fundamentalnya masih relatif manageable. “Bank-bank pelat merah memiliki basis dana pihak ketiga yang kuat, akses likuiditas yang luas, serta dukungan kebijakan yang solid. Reaksi pasar saat ini cenderung berlebihan,” tuturnya.
Dalam jangka menengah, Ekky memperkirakan fokus investor akan kembali pada kualitas aset, pertumbuhan kredit, dan prospek laba, bukan semata isu penempatan dana SAL.
BMRI Chart by TradingView
Dari sisi pilihan saham, Ekky menilai BMRI menjadi salah satu big bank yang paling menarik saat ini. Pasalnya, valuasi BMRI sudah lebih rasional dibandingkan rata-rata historis dan berpotensi diuntungkan dari siklus suku bunga yang lebih akomodatif.
Sementara di segmen bank digital, saham yang mulai menunjukkan perbaikan kinerja dan jalur menuju profitabilitas masih layak dicermati, seperti BBYB dan ARTO. Namun, Ekky mengingatkan investor untuk tetap disiplin karena volatilitas saham-saham tersebut masih tergolong tinggi.