Saham emiten nikel naik di tengah penguatan harga, ini rekomendasinya

Ifonti.com JAKARTA. Saham sejumlah emiten produsen nikel terpantau kompak menguat hari ini, Kamis (12/2/2026). 

Peningkatan saham mereka terjadi di tengah penguatan harga nikel pasca pemangkasan kuota produksi Indonesia dari PT Weda Bay Nickel untuk tahun 2026.

Tengok saja, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 3,26% pada perdagangan hari ini ke Rp 4.120 per saham. Sahamnya naik 0,73% dalam sebulan dan naik 30,79% sejak awal tahun alias year to date (YTD)

Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 3,65% hari ini ke Rp 7.100 per saham. INCO tercatat naik 10,94% dalam sebulan terakhir dan 37,2% YTD.

Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga naik 4,61% ke Rp 1.475 per saham. NCKL terpantau naik 4,61% dalam sebulan terakhir dan 31,11% YTD.

Kinerja UNVR Diprediksi Tumbuh Moderat di Tahun 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengatakan, pemangkasan produksi dari raksasa seperti PT Weda Bay Nickel menciptakan efek kejut pada sisi suplai global yang langsung mendongkrak harga nikel.

Investor melihat pengetatan kuota RKAB ini sebagai upaya pemerintah Indonesia untuk menyeimbangkan pasar global agar harga tidak jatuh terlalu dalam akibat oversupply.

“Efeknya, saham emiten nikel yang memiliki efisiensi biaya tinggi akan menjadi buruan investor,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai, kondisi tersebut positif berdampak positif untuk mendorong harga saham jangka pendek. Sebab, pasar merespons kenaikan harga jual global yang bisa memperbaiki margin.

“Pemangkasan kuota dilihat sebagai langkah strategis pemerintah mengontrol pasokan untuk mendongkrak harga komoditas dan mengakhiri era oversupply,” katanya kepada Kontan, Kamis (12/2).

Secara keseluruhan, kinerja sektor nikel di tahun 2026 diprediksi akan mengalami konsolidasi dengan potensi perbaikan margin. Namun, volume penjualan mungkin akan sedikit tertahan.

IHSG Diprediksi Sideways Jelang Long Weekend, Cek Saham Pilihan Analis, Jumat (13/2)

David melihat, sentimen pendorongnya berasal dari tiga hal utama. Pertama, kenaikan average selling price (ASP) lantaran penurunan kuota produksi global dari 379 juta ton ke kisaran 260-270 juta ton.

Kedua, penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke level 4,25% akan menurunkan beban bunga bagi emiten yang sedang melakukan ekspansi smelter.

Ketiga, harga minyak Brent yang diproyeksi bakal ada di kisaran US$ 64 per barel bisa membantu menekan biaya operasional penambangan.

Sementara, sentimen pemberat berasal dari pembatasan volume produksi dan kondisi ekonomi China, sebagai mitra dagang utama Indonesia, yang masih tertekan deflasi.

Davi melihat, NCKL dinilai prospektif di tahun 2026 karena didorong pertumbuhan kapasitas berkat integrasi HPAL yang kuat untuk ekosistem baterai EV.

“Sementara ANTM diunggulkan karena diversifikasi ke komoditas emas yang saat ini sedang dipacu oleh bank sentral global (PBOC),” paparnya.

Wafi bilang, prospek kinerja emiten nikel di tahun 2026 bisa lebih cerah lantaran pasar nikel sudah mulai menemukan equilibrium harga baru yg lebih tinggi. 

Pendorong utama kinerja adalah perbaikan margin smelter, sedangkan pemberatnya adalah batas kuota produksi bijih RKAB yang lebih ketat. 

“Emiten yang paling diuntungkan adalah NCKL, karena punya integrasi supply chain hulu-hilir paling efisien dan biaya cash cost terendah,” ungkapnya.

Wafi pun merekomendasikan NCKL, ANTM, dan INCO dengan target harga masing-masing Rp 100 per saham, Rp 4.450 per saham, dan Rp 8.200 per saham.