Ifonti.com Gorontalo — Menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah, Bank Indonesia mengajak insan pers di Gorontalo berperan aktif menjaga persepsi publik terhadap harga pangan.
Ajakan itu mengemuka dalam kegiatan PIRAMIDA (Ngopi Bareng Insan Media) yang digelar Jumat (20/2/2026) sore di Galeri UMKM OLAKU, eks Kantor Bank Indonesia lama, kawasan Kota Gorontalo.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.30 Wita tersebut dihadiri langsung Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, bersama sejumlah pejabat Bank Indonesia serta insan pers dari berbagai media di Gorontalo.
Pantauan di lokasi, suasana kegiatan berlangsung santai. Dialog ringan mengalir dalam forum ngopi bersama, diawali sambutan, diskusi, lalu ditutup dengan sesi foto bersama.
Meski dikemas informal, pembahasan yang disampaikan menyentuh isu strategis, khususnya pengendalian inflasi dan harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Dalam pemaparannya, Bambang menegaskan Bank Indonesia terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Gorontalo untuk menjaga stabilitas harga selama periode Ramadan dan Idulfitri atau HBKN RAFI.
Upaya tersebut, kata Bambang, diawali dengan pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID se-Provinsi Gorontalo pada awal Februari 2026 yang dihadiri kepala daerah se-Gorontalo sebagai langkah memperkuat koordinasi lintas wilayah.
“Sebagai tindak lanjut, kami mendorong penguatan strategi pengendalian inflasi yang terintegrasi. Bank Indonesia mengenal kerangka 4K sebagai pilar utama pengendalian inflasi di daerah,” ujar Bambang di hadapan awak media.
Empat pilar tersebut meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Untuk keterjangkauan harga, Bank Indonesia secara rutin melakukan pemantauan harga komoditas pangan strategis di pasar tradisional dan modern.
Pemantauan dilakukan secara mingguan dan menjadi bagian dari early warning system melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).
Selain itu, pemantauan harga juga dilakukan Badan Pusat Statistik melalui Indeks Perkembangan Harga (IPH).
Kedua indikator tersebut menjadi dasar pengambilan kebijakan lanjutan, termasuk pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Sementara pada pilar ketersediaan pasokan, perhatian diarahkan pada penguatan sumber pasokan lokal dan optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), terutama untuk komoditas strategis seperti cabai, bawang merah, dan tomat yang kebutuhannya meningkat saat Ramadan dan Idulfitri.
Pilar kelancaran distribusi dilakukan dengan memastikan distribusi pangan berjalan lancar melalui subsidi ongkos angkut, ketersediaan armada distribusi, serta pengawasan distribusi lintas wilayah.
Ketersediaan BBM dan LPG juga menjadi bagian dari pengawasan guna menjaga rantai distribusi tetap berjalan.
Adapun pada pilar komunikasi efektif, Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak, sesuai kebutuhan, memanfaatkan produk UMKM olahan pangan, serta melakukan diversifikasi konsumsi pangan segar.
Bambang menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu kenaikan harga.
Dalam forum tersebut, Bank Indonesia juga mendorong penggunaan transaksi non-tunai sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan keamanan dalam bertransaksi.
Melalui kegiatan PIRAMIDA ini, Bank Indonesia berharap media dapat berperan strategis sebagai mitra komunikasi dalam menyampaikan informasi yang seimbang dan edukatif kepada masyarakat, khususnya terkait inflasi dan dinamika harga pangan menjelang Ramadan.
“Kami melihat media sebagai mitra penting. Komunikasi yang baik akan membantu membangun ekspektasi masyarakat agar tetap rasional dalam berbelanja selama Ramadan,” pungkas Bambang. (*)