Sentimen global bikin rupiah loyo jadi Rp 17.414 per dolar AS

Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan perdagangan, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap tensi geopolitik global serta derasnya arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.

Pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026), rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp 17.414 per dolar AS, melemah 0,18% dibandingkan akhir pekan sebelumnya yang berada di Rp 17.382 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah ke level Rp 17.415 per dolar AS atau turun 0,23% dari posisi akhir pekan lalu di Rp 17.375 per dolar AS.

Tekanan Global Dorong Pelemahan Rupiah

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini sejalan dengan tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Asing Net Sell Rp 751 Miliar, Cermati Saham yang Banyak Dijual Asing di Awal Pekan

Menurutnya, sentimen utama yang membebani pasar berasal dari meningkatnya kembali risiko geopolitik global, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.

“Rupiah dan mata uang regional umumnya melemah terhadap dolar AS oleh menurunnya harapan perdamaian antara AS-Iran, yang kembali memicu kenaikan harga minyak mentah dunia kembali di level US$ 100,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Kenaikan harga minyak hingga ke level psikologis US$ 100 per barel dinilai menambah tekanan inflasi global, sehingga memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Arus Modal Asing Tekan Pasar Domestik

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi domestik. Lukman menambahkan, sentimen pasar dalam negeri masih cenderung lemah akibat aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia.

Arus keluar dana asing dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Kinerja Emiten Kontraktor Tambang Kuartal I-2026 Melemah Saat Harga Batubara Naik

Fokus Pasar Beralih ke Data Inflasi AS dan Pertemuan Trump–Xi

Untuk perdagangan Selasa (12/5/2026), pelaku pasar diperkirakan akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Selain itu, pasar global juga menanti perkembangan pertemuan penting antara Donald Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis dan Jumat pekan ini.

Pertemuan kedua pemimpin ekonomi terbesar dunia tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penentu arah sentimen pasar global, termasuk pergerakan mata uang emerging market seperti rupiah.

“Rupiah bisa menguat maupun melemah, tergantung pada sentimen pasar dari hasil pertemuan tersebut,” lanjutnya.

Lukman memproyeksikan, pada perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.350 hingga Rp 17.450 per dolar AS