
Ifonti.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menyentuh level 9.000 di bulan Januari 2026 ini.
IHSG kembali memecahkan rekor baru all time high (ATH) pada perdagangan Rabu (7/1/2026). IHSG menguat 11,20 poin atau 0,13% ke level 8.944,81 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengamat Pasar Modal & Founder Republik Investor Hendra Wardana melihat, pasca mencetak rekor tertinggi baru di kisaran 8.940–8.970, pergerakan IHSG ke depan masih menunjukkan arah yang konstruktif.
Secara jangka pendek, potensi konsolidasi atau koreksi teknikal sebenarnya tetap terbuka akibat aksi ambil untung. Namun, tekanan tersebut diperkirakan bersifat terbatas dan sehat.
Selama arus dana asing masih konsisten mencatatkan net buy dan likuiditas pasar tetap terjaga, IHSG berpeluang melanjutkan reli dan menguji level psikologis 9.000 pada Januari 2026.
“Rotasi sektor yang aktif serta dominasi saham-saham berkapitalisasi besar menjadi bantalan utama pergerakan indeks di tengah ketidakpastian global,” ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).
Cek Prospek dan Rekomendasi Saham Unilever (UNVR) Usai Lepas Bisnis Teh Sariwangi
Secara proyeksi, IHSG diperkirakan masih berada dalam tren naik dengan target kuartal I 2026 di kisaran 9.150–9.250.
Optimisme itu ditopang oleh ekspektasi kebijakan moneter global yang lebih akomodatif, stabilitas makroekonomi domestik, serta kinerja fundamental emiten-emiten besar yang relatif solid.
Memasuki akhir semester I 2026, IHSG berpotensi bergerak lebih tinggi menuju area 9.300–9.450, seiring rilis kinerja keuangan semesteran dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
“Meski demikian, volatilitas global, tensi geopolitik, pergerakan nilai tukar rupiah, serta fluktuasi harga komoditas tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati,” kata Hendra.
Dari sisi sektor, perbankan masih akan menjadi tulang punggung IHSG sepanjang 2026, mengingat bobot kapitalisasi pasar yang besar serta karakter bisnis yang relatif defensif.
Saham-saham bank besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI tetap menjadi penopang utama indeks, terutama jika pertumbuhan kredit dan kualitas aset tetap terjaga.
Selain itu, sektor tambang dan energi kembali mencuri perhatian pasar, tercermin dari tingginya nilai transaksi pada saham-saham komoditas.
“Di sisi lain, sektor konsumsi mulai menunjukkan daya tarik, terutama bagi emiten dengan valuasi yang sudah terdiskon dan berpeluang mencatatkan pemulihan kinerja secara bertahap,” ujar Hendra.
Hendra pun merekomendasikan trading buy untuk ANTM, BUMI, KPIG, dan SRTG dengan target harga masing-masing Rp 4.200 per saham, Rp 500 per saham, Rp 250 per saham, dan Rp 2.000 per saham.
Sentimen positif untuk ANTM adalah harga emas, prospek hilirisasi mineral, serta tingginya minat pasar terhadap saham berbasis komoditas strategis.
“Sementara, untuk BUMI sentimennya seiring kuatnya likuiditas, aktivitas transaksi yang tinggi, serta persepsi pasar yang membaik terhadap prospek kinerja perusahaan,” imbuh Hendra.
Lalu, rekomendasi speculative buy juga disematkan Hendra untuk saham UNVR dan EMTK dengan target harga masing-masing Rp 3.250 per saham dan Rp 1.310 per saham.
Kinerja Emiten CPO Masih Prospektif pada 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya