Sinergi Multi (SMLE) dikabarkan dual listing di AS, ini komentar analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten bahan baku PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) dikabarkan tengah menjajaki peluang dual listing di bursa Nasdaq, Amerika Serikat.

Rumor yang beredar dari pelaku pasar menyebutkan bahwa SMLE mengambil langkah ini sebagai bagian dari upaya ekspansi global dan diversifikasi bisnis. 

Namun hingga saat ini, pihak manajemen belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi tersebut, sehingga realisasi aksi korporasi tersebut masih bersifat spekulatif dan bergantung pada proses due diligence serta persetujuan regulator.

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai secara konseptual, dual listing dapat meningkatkan eksposur SMLE ke investor global, memperbaiki likuiditas saham, serta membuka potensi re-rating valuasi, khususnya pada segmen specialty chemicals. 

BEI Suspensi Saham BLTZ, SMLE, PUDP dan INDX, Begini Rekomendasi Analis

“Namun manfaat tersebut baru dapat terealisasi apabila struktur transaksi, kesiapan tata kelola, serta kualitas fundamental mampu memenuhi standar pasar global,” kata Sukarno dalam risetnya, Rabu (27/1/2026).

Dari sisi fundamental, opsi kerja sama strategis atau joint venture (JV) dengan mitra asing berpotensi mendukung ekspansi pasar dan peningkatan skala usaha milik SMLE. 

  SMLE Chart by TradingView  

Meski demikian, Sukarno berpandangan dampak terhadap kinerja keuangan belum dapat diukur secara pasti dan akan sangat bergantung pada struktur JV, pembagian risiko, serta efektivitas eksekusi manajemen. 

“Positifnya, pengendalian research and development (R&D) yang tetap berada di internal perseroan berpotensi menjaga keberlanjutan keunggulan kompetitif,” tambah Sukarno.

BEI Buka Suspensi Saham AGII, RMKE, LPPS, dan SMLE, Begini Pergerakannya

Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno berpendapat dalam jangka pendek, saham SMLE dapat dicermati secara selektif dengan pendekatan trading buy di target harga Rp 210, dan area support Rp 180 dan Rp 166.

Selain itu, Sukarno mengingatkan agar investor tetap mencermati risiko volatilitas seiring belum adanya kepastian aksi korporasi.