Strategi investasi 2026: Fokus cash, emas, dan blue chip di tengah volatilitas

Ifonti.com – JAKARTA. Harga emas terus bersinar di tengah gejolak pasar global, sementara kinerja aset investasi lain bergerak bervariasi.

Kondisi ini menegaskan posisi logam mulia sebagai aset safe haven yang kembali diminati investor.

Berdasarkan data Bloomberg, per akhir Februari 2026, instrumen investasi dengan kinerja terbaik dipimpin oleh emas spot dengan return sebesar 10,6% month-on-month (MoM). Tren kenaikan ini melanjutkan pergerakan Januari 2026 yang tercatat 8,49% MoM.

Yield Naik Terbatas, Return Obligasi Tetap Positif, Ini Pendorongnya

Kinerja positif ini juga terlihat pada emas Aneka Tambang (Antam), yang mencatat return 6,5% MoM di akhir Februari.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto berpendapat, emas masih berpotensi melanjutkan tren positif sepanjang 2026.

“Hampir tiga tahun terakhir, emas konsisten menjadi incaran investor, baik ritel maupun institusi. Hal ini mendorong permintaan terus meningkat dan berdampak pada harga,” ujar Eko kepada Kontan.co.id Selasa (3/3/2026).

Geopolitik Timur Tengah Dorong Minat Emas

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, turut mengerek minat investor pada emas. Selat Hormuz yang terganggu menambah ketidakpastian pasar global.

“Selain melindungi dari inflasi, likuiditas tinggi dan sifat safe haven membuat emas semakin dicari. Kondisi perang saat ini membuat emas menjadi produk yang makin diminati,” kata Eko.

PMI Manufaktur Naik Jadi Angin Segar bagi Saham Sektor Industri, Cek Rekomendasinya

Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai prospek harga emas Antam masih positif.

Harga emas spot global diperkirakan masih memiliki ruang kenaikan, terutama dalam jangka pendek hingga menengah, meski penggerak utama jangka panjang tetap berasal dari permintaan bank sentral dunia.

Pada Selasa (3/3) pukul 17.20 WIB, harga emas spot berada di US$ 5.270 per ons troi, naik 6,20% MoM dan 22,06% YTD.

Lukman memproyeksikan harga emas spot berpotensi bergerak di kisaran US$ 5.600 – 5.700 per ons troi hingga pertengahan 2026.

Dengan asumsi kenaikan tersebut, harga emas Antam diperkirakan mencapai Rp 3,3 juta per gram pada semester I-2026.

Cek Rekomendasi Teknikal Saham LSIP, PWON, PGAS untuk Rabu (4/3)

Pergerakan Pasar Modal dan Instrumen Lain

Sementara itu, kinerja pasar modal dan aset investasi lain bergerak berbeda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat return -1,1% MoM, sedangkan obligasi pemerintah dan korporasi naik masing-masing 0,44% dan 0,5% MoM.

Berbanding terbalik, aset kripto masih tertekan, dengan Bitcoin turun 19,8% MoM dan Ethereum terkoreksi 24,5% MoM.

Menurut Eko, pergerakan bervariasi ini dipengaruhi kombinasi faktor makro dan mikro ekonomi yang belum kondusif.

“Kondisi makro global yang tidak pasti dan situasi mikro domestik yang menantang menjadi pemicu kinerja investasi yang tidak maksimal,” jelasnya.

Co-founder Cryptowatch Christopher Tahir menambahkan bahwa tren bearish di kripto kemungkinan akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini.

Namun, investor tetap bisa mempertimbangkan kripto sebagai aset diversifikasi ketika harganya sedang terkoreksi.

Kinerja LPKR Turun Saat Lippo Cikarang (LPCK) Pulih, Ini Rekomendasi Sahamnya

Strategi Portofolio 2026

Eko menilai, tekanan geopolitik dan potensi suku bunga tinggi membuat investor cenderung meningkatkan porsi aset likuid.

Deposito masih menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian, sementara reksa dana campuran dapat mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga yang menekan harga obligasi.

Untuk alokasi portofolio:

  • Investor konservatif: 40% cash/deposito, 40% emas, 20% saham blue chip
  • Investor moderat: 40% cash/deposito, 30% emas, 30% saham blue chip
  • Investor agresif: 20% cash/deposito, 30% emas, 50% kombinasi saham dan kripto

Menurut Eko, fokus portofolio saat ini sebaiknya diarahkan pada aset likuid dan safe haven, mengingat eskalasi konflik geopolitik dan ketidakpastian suku bunga.