Tekanan valas Asia berlanjut pada 2026, kebijakan AS dan geopolitik jadi sentimen

Ifonti.com – JAKARTA. Prospek mata uang Asia diperkirakan masih menghadapi tekanan sepanjang tahun 2026. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang masih dominan serta meningkatnya ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menekan pergerakan valas Asia.

Terbaru, melansir Trading Economics pukul 17.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) berhasil menembus level 100,2 atau menguat 3,10% secara bulanan (MoM). 

Sejalan dengan itu, pairing valuta asing (valas) USD/JPY di level 159,4 naik 3,86% MoM. Pairing valas USD/CNY di level 6,90 naik 0,09% MoM, pairing valas USD/KRW di level 1.499,8 menguat 3,36% MoM, serta USD/INR juga tercatat menguat 2,03% MoM jadi 92,6.

IHSG Kembali Melemah Pekan Ini, Tekanan Geopolitik Masih Membayangi

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai tren pelemahan mata uang Asia kemungkinan masih berlanjut setidaknya hingga semester I-2026.

Menurut dia, tekanan terhadap valas Asia akan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik global belum mereda. 

Selain itu, kebijakan fiskal dan tarif dari pemerintahan AS yang cenderung lebih proteksionis juga berpotensi memberikan sentimen negatif bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan ekspor tinggi terhadap pasar AS.

“Negara seperti Korea Selatan dan China cukup rentan karena memiliki ketergantungan ekspor yang besar ke Amerika Serikat. Kebijakan perdagangan yang lebih ketat dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang mereka,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (13/3/2026).

Meski demikian, Wahyu menilai laju pelemahan mata uang Asia kemungkinan tidak sedalam kuartal sebelumnya. Hal ini seiring dengan upaya bank sentral di berbagai negara yang mulai melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi masing-masing.

Di tengah penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya sentimen risk-off, Wahyu menyarankan investor untuk lebih mengedepankan strategi perlindungan nilai atau capital preservation.

Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah mengalihkan sebagian portofolio ke aset safe haven, seperti emas maupun obligasi pemerintah jangka pendek. 

Selain itu, diversifikasi mata uang juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko volatilitas. Investor disarankan mengurangi eksposur pada mata uang Asia yang cenderung volatil, seperti won Korea Selatan atau yen Jepang, dan mengalihkan sebagian portofolio ke mata uang yang relatif lebih stabil, seperti dolar Singapura.

Dari sisi proyeksi nilai tukar, Wahyu memperkirakan pasangan USD/JPY akan bergerak di sekitar 155-163 pada semester I-2026.

Sementara itu, pasangan USD/CNY diperkirakan berada di rentang 6,70-7,10. Wahyu mencatat yuan justru menjadi salah satu mata uang Asia yang relatif kuat dalam setahun terakhir setelah sebelumnya sempat melemah hingga level 7,3511 per dolar AS.

Adapun pasangan USD/KRW diproyeksikan bergerak di kisaran 1.420-1.500, bahkan berpotensi melemah hingga 1.550 per dolar AS. 

Di sisi lain, pasangan USD/INR juga diperkirakan masih berada dalam tekanan di kisaran 91,5-93,5, bahkan berpotensi mendekati 95 per dolar AS.

Saham Big Banks Kompak Merah Jumat (13/3/2026), Tapi Fundamentalnya Masih Kuat