
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja indeks saham LQ45 tercatat masih loyo sepanjang tahun 2025.
Indeks yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan menjadi acuan utama bagi fund manager global maupun domestik ini hanya membukukan kenaikan 2,41% secara year to date (ytd) hingga akhir perdagangan tahun 2025.
Capaian tersebut jauh di bawah performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mampu melesat hingga 22,13% sepanjang periode yang sama.
Analis Fundamental BRI Danareksa Abida Massi Armand mengatakan kinerja Indeks LQ45 sepanjang tahun 2025 dipengaruhi oleh tekanan aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif mencapai Rp 52,42 triliun serta ketidakpastian kebijakan moneter global, terutama kenaikan suku bunga Bank of Japan yang memicu kekhawatiran pembalikan aktivitas carry trade.
IHSG Diproyeksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (30/12)
Beberapa saham yang menjadi pemberat utama indeks meliputi BBCA, BBRI, BMRI.
Selain itu ada ACES yang terkoreksi signifikan akibat penurunan pertumbuhan penjualan (SSSG), serta emiten ritel, konsumer, dan tambang seperti AMRT, MAPA, ICBP, dan AMMN yang menghadapi tantangan operasional serta fluktuasi harga komoditas.
Meskipun mengalami tekanan, kondisi ini justru menciptakan landasan valuasi yang lebih menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi pada harga yang kompetitif sebelum memasuki fase pemulihan.
Prospek Saham LQ45 di Tahun 2026
Abida memproyeksikan saham indeks LQ45 di tahun 2026 sangat positif dengan target optimistis IHSG menembus level 10.000. Optimisme ini didorong oleh fundamental ekonomi nasional yang tetap solid meskipun menghadapi tantangan global.
“Katalis pendorong utama meliputi ekspektasi penurunan suku bunga acuan (BI Rate) pada awal tahun, serta stimulus fiskal besar dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan menggerakkan sektor riil,” kata Abida kepada Kontan, Senin (5/01/2026).
Simak Rekomendasi Saham BNI Sekuritas untuk Perdagangan Awal Tahun Jumat (2/1)
Di sisi lain, sentimen negatif yang perlu diwaspadai adalah risiko ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah pemerintahan baru serta normalisasi lanjutan suku bunga Jepang yang berpotensi memengaruhi likuiditas pasar berkembang.
Saham Penggerak Indeks
Abida berpendapat saham-saham sektor perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI akan kembali menjadi lokomotif penggerak indeks karena didukung oleh pemulihan aliran modal masuk asing dan kebijakan dividen yang kuat.
Selain itu, sektor konsumer dan peternakan melalui emiten seperti ICBP, INDF, CPIN, dan JPFA diprediksi menjadi penopang utama berkat lonjakan permintaan dari Program MBG serta potensi penguatan margin keuntungan akibat melandainya harga bahan baku.
Adapun ASII diperkirakan akan menyokong indeks seiring dengan peningkatan penetrasi kendaraan listrik dan keberhasilan strategi diversifikasi bisnis ke sektor mineral dan kesehatan yang lebih defensif.
Ini Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham MNC Sekuritas untuk Awal Perdagangan 2026
Abida merekomendasikan buy pada emiten berkapitalisasi besar dengan target harga yang mencerminkan potensi kenaikan signifikan, seperti BBCA dengan target di 10.800 dan BMRI pada target Rp 5.500.
Kemudian saham ASII memiliki target harga di level Rp 7.450, sementara TLKM diproyeksikan mencapai Rp 4.000 seiring dengan efisiensi operasionalnya.