
Ifonti.com Jakarta. Saham-saham Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) akan kembali terkena sanksi. Setelah didepak dari indeks MSCI, saham HSC juga akan dikeluarkan dari indeks FTSE Russell.
Dalam rilis Indonesia-index treatment for June 2026 index review pada Rabu (13/5/2026), penyedia indeks global tersebut memastikan akan menghapus saham berstatus HSC dari indeksnya menggunakan mekanisme “price to zero”.
Keputusan ini menjadi sinyal serius bagi pasar modal Indonesia karena FTSE Russell menilai saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi berisiko mengalami penurunan likuiditas dan sulit diperdagangkan investor global.
Apa itu high shareholding concentration (HSC)?
High shareholding concentration (HSC) merupakan kondisi ketika kepemilikan saham suatu emiten terlalu terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu sehingga jumlah saham yang beredar di publik menjadi terbatas.
Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi likuiditas perdagangan dan menyulitkan investor institusi besar, terutama investor yang mengikuti indeks global atau index tracking investors.
FTSE Russell menilai saham dengan status HSC berpotensi mengganggu integritas indeks karena pergerakan harganya tidak mencerminkan kondisi pasar yang likuid.
Harga Turun 21%, Saham Ini Akan Bayar Dividen Rp 35.100 Per Lot, Ini Jadwalnya
FTSE Russell masih pantau pasar modal Indonesia
Dalam pengumuman terbarunya, FTSE Russell menyebut otoritas pasar modal Indonesia sebenarnya telah melakukan sejumlah perbaikan untuk meningkatkan transparansi pasar.
Beberapa langkah yang sudah dilakukan antara lain membuka data kepemilikan saham di atas 1%, menerbitkan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC list), hingga memperkuat pelaporan klasifikasi investor.
Meski demikian, FTSE Russell menilai kondisi pasar Indonesia masih membutuhkan masa pemantauan lebih panjang.
Karena itu, lembaga indeks global tersebut memutuskan tetap menunda sejumlah penyesuaian besar terhadap saham Indonesia setidaknya hingga review September 2026.
Dalam review Juni 2026, FTSE Russell hanya akan melakukan pembaruan terbatas seperti perubahan klasifikasi industri, pembaruan saham beredar, penurunan free float, hingga penghapusan emiten akibat spin off atau faktor ESG.
Sementara itu, proses re-ranking penuh indeks, kenaikan free float, dan penambahan saham baru melalui IPO masih ditangguhkan.
Kupon 6,25%, ST016 Sudah Laku 37%, Ini Cara Investasi Sukuk Terbaru, Modal Rp 1 Juta
Saham HSC akan dihapus dengan metode price to zero
Fokus utama FTSE Russell saat ini tertuju pada saham dengan status HSC.
Berdasarkan pedoman pembatasan free float FTSE Russell, saham yang mendapat peringatan konsentrasi kepemilikan tinggi dari regulator dapat dikeluarkan dari indeks.
FTSE Russell mengungkapkan masukan dari pelaku pasar menunjukkan likuiditas saham yang terdampak diperkirakan memburuk signifikan menjelang review Juni 2026.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyulitkan investor institusi global untuk keluar dari saham tanpa menimbulkan tekanan besar terhadap harga pasar.
Menurut FTSE Russell, situasi itu dapat menghambat kemampuan investor mereplikasi indeks secara akurat.
Karena alasan tersebut, saham berstatus HSC akan dihapus pada review Juni 2026 menggunakan metode “price to zero”, efektif mulai perdagangan 22 Juni 2026.
FTSE Russell belum merinci saham mana saja yang akan terdampak. Namun, pengumuman detail mengenai emiten terkait dipastikan akan dirilis kemudian.
Tonton: Harga Emas Antam KEmbali Meredup Hari Ini (15 Mei 2026)
Dampak bagi pasar saham Indonesia
Langkah FTSE Russell ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap saham-saham dengan free float rendah dan likuiditas terbatas.
Selain itu, keputusan tersebut juga dapat memengaruhi aliran dana asing karena banyak investor global menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan investasi.
Ke depan, FTSE Russell menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan berdiskusi dengan otoritas domestik sebelum menentukan normalisasi penuh perlakuan indeks Indonesia pada review September 2026.
Tonton: Bank Sentral Global Borong 244 Ton Emas Kuartal I-2026, Bank Indonesia Beli 2 Ton
Daftar saham Indonesia di indeks FTSE Russell
Sejumlah saham Indonesia saat ini masih menjadi bagian dari indeks FTSE Russell dan banyak digunakan sebagai acuan investor global.
Beberapa saham big cap Indonesia yang masuk indeks FTSE Russell antara lain:
– BBCA
– BBRI
– BMRI
– TLKM
– ASII
– ICBP
– UNVR
– AMMN
– BREN
– TPIA
– DSSA
– CUAN
– AMRT
– INDF
– GOTO
– BYAN
– MDKA
– ANTM
– ADRO
– PGEO
Saham-saham tersebut memiliki pengaruh besar terhadap arus dana asing karena menjadi bagian dari indeks acuan global.
Daftar saham HSC
FTSE Russell memang belum merilis daftar resmi terbaru saham yang akan terkena tindakan “price to zero”. Namun, sejumlah saham Indonesia sebelumnya sempat masuk radar konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC.
Beberapa saham yang sering dikaitkan dengan isu free float rendah dan konsentrasi kepemilikan tinggi antara lain:
– BREN
– CUAN
– TPIA
– DSSA
– AMMN
Kondisi free float yang terbatas membuat likuiditas saham dinilai lebih rentan dan berpotensi menyulitkan investor institusi global dalam melakukan transaksi dengan volume besar.