Usai rilis penurunan kinerja, ini rekomendasi Astra (ASII) yang siapkan strategi baru

Ifonti.com  JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) berhasil membukukan pertumbuhan kinerja sejalan dengan ekspektasi pasar pada tahun 2025. Meski pendapatan emiten berkode saham ASII ini turun 2% secara tahunan menjadi Rp 323 triliun dan laba bersih turun 3% secara tahunan menjadi Rp 32,7 triliun. 

Di tahun lalu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta dalam riset Senin (16/3/2026) bilang, segmen otomotif menunjukkan perbaikan pada kuartal IV 2025 dengan kenaikan pendapatan sebesar 2% secara kuartalan, didorong oleh pemulihan penjualan mobil. Namun secara tahunan, penjualan mobil masih mengalami kontraksi sebesar 8%.

Pada tahun ini, permintaan otomotif mulai membaik. Ini nampak dari data industri terbaru yang menunjukkan adanya perbaikan permintaan. Penjualan mobil secara wholesales pada Februari 2026 mencapai 81.100 unit, naik 9% secara bulanan (mom) dan hanya turun tipis 1% secara year on year (yoy). Secara kumulatif dua bulan pertama 2026, penjualan mencapai 147.600 unit atau tumbuh 10% yoy.

Rupiah Menguat di Tengah Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Terhadap Dolar AS

Penjualan sepeda motor juga tetap solid, dengan penjualan Februari 2026 sebesar 587.000  unit (+1% YoY) dan total dua bulan pertama mencapai 1,2 juta unit (+2% YoY).

Namun demikian, Paulina mengatakan, pangsa pasar mobil Astra mengalami penurunan menjadi 47% pada Februari 2026, dari 53% pada Januari 2026. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan distribusi kendaraan komersial dari kompetitor. Meski diperkirakan bersifat sementara, persaingan di sektor ini diprediksi tetap ketat dalam jangka menengah.

Kinerja unit usaha ASII di segmen lain seperti alat berat dan pertambangan melalui United Tractors (UNTR) berada di bawah ekspektasi, dipengaruhi oleh penurunan kinerja alat berat, batu bara, serta volume emas yang lebih rendah, meskipun harga emas meningkat. Di sisi lain, pertumbuhan sektor jasa keuangan melambat menjadi hanya 1% secara tahunan. Padahal dua tahun sebelumnya segmen sektor jasa keuangan mencatatkan pertumbuhan dua digit, meski margin mengalami perbaikan.

Namun, segmen agribisnis justru mencatatkan pemulihan signifikan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba masing-masing sebesar 31% dan 28% secara tahunan. 

Pada tahun ini, manajemen ASII menargetkan peninjauan strategi perusahaan rampung pada akhir semester I 2026. “Hasilnya diharapkan memberikan kejelasan terkait indikator kinerja utama (KPI), total shareholder return (TSR), serta prioritas alokasi modal,” tutur Paulina.

Beberapa opsi strategis yang tengah dipertimbangkan antara lain potensi akuisisi rumah sakit, peningkatan kepemilikan di sektor kesehatan, serta kelanjutan program buyback saham.

Dalam jangka pendek, imbal hasil bagi pemegang saham didukung oleh program buyback dan dividen yang menarik. “Secara keseluruhan, prospek ASII pada 2026 dinilai tetap positif, ditopang oleh perbaikan permintaan otomotif dan potensi katalis korporasi, dengan tetap mencermati tekanan pangsa pasar serta prospek volume komoditas seperti emas dan batubara,” tulis Paulina dalam riset. 

Karena itu, Paulina kembali menegaskan rekomendasi buy untuk saham PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga tetap di level Rp 6.700, yang mencerminkan valuasi sekitar 8 kali estimasi price-to-earnings (P/E) tahun buku 2026.

Rupiah Menguat di Tengah Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Terhadap Dolar AS

Kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham juga tercermin dari pengumuman program pembelian kembali saham (buyback) ketiga berturut-turut senilai Rp2 triliun dalam tiga bulan ke depan. “Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa saham ASII masih berada di bawah nilai wajarnya,” pendapat Paulina. Meski demikian, sejumlah risiko tetap membayangi, antara lain potensi pelemahan permintaan otomotif, penurunan tajam harga komoditas, serta kenaikan signifikan rasio kredit bermasalah (NPL). 

Pada tahun ini, pendapatan ASII diproyeksi bisa mencapai Rp 338,76 triliun dengan laba bersih Rp 33,53 triliun. Sementara di tahun 2027 pendapatan dan laba bersih ASII masing-masing diperkirakan mencapai Rp 349,87 triliun dan Rp 34,59 triliun.