Yield SBN mendekati 7%, tekanan risiko domestik lebih dominan

Ifonti.com JAKARTA. Pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih bertahan di level tinggi. Padahal, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%–3,75% pada Maret 2026.

Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,84% atau mendekati 7%.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan, secara teori sikap The Fed yang cenderung tidak agresif menaikkan suku bunga seharusnya menjadi katalis positif bagi obligasi emerging markets, termasuk Indonesia. 

Namun, realitas di pasar menunjukkan bahwa yield SBN masih tertahan di level tinggi.

“Ini menunjukkan bahwa faktor di luar suku bunga global masih cukup berperan dalam menentukan arah pasar obligasi domestik,” ujar Yusuf saat dihubungi Kontan, Jumat (27/3/2026).

Yield SBN Dekati 7%, Peluang Capital Inflow Bergantung Sentimen Ini

Ia menambahkan, dari sisi global, ketidakpastian belum sepenuhnya mereda. Eskalasi geopolitik serta kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi membuat investor cenderung bersikap hati-hati. Alhasil, aliran dana ke pasar emerging markets belum pulih sepenuhnya.

Yusuf menilai bahwa saat ini kombinasi faktor domestik lebih berpengaruh dibandingkan faktor global. 

Menurutnya, persepsi terhadap risiko fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah yang masih besar, serta dinamika permintaan dan penawaran SBN menjadi penentu utama pergerakan yield saat ini.

Selain itu, kenaikan credit default swap (CDS) dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga mencerminkan kehati-hatian investor, meskipun secara fundamental kondisi fiskal Indonesia masih relatif terjaga dibandingkan negara-negara sejenis.

Prospek SBN Masih Menarik di 2026, Tapi Investor Asing Lebih Selektif

Lebih lanjut, Yusuf menilai kondisi yield yang tinggi saat ini belum sampai pada tahap mengkhawatirkan, sebab belum mengganggu stabilitas secara keseluruhan. Namun, ia mengingatkan agar situasi ini tetap dicermati.

“Karena jika yield bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama, implikasinya bisa ke biaya utang pemerintah dan ruang fiskal ke depan,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi ini lebih tepat dilihat sebagai sinyal bagi otoritas untuk menjaga konsistensi kebijakan serta stabilitas makroekonomi.

Yield SBN 10 Tahun Terus Menanjak, Kurs Rupiah Tahan Penurunan