Ini langkah yang harus ditempuh usai drama MSCI hingga pejabat pasar modal mundur

Ifonti.com  JAKARTA. Gonjang-ganjing bursa saham dalam sepekan ini dimulai dari kabar Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis evaluasi terhadap saham-saham Indonesia.

Pada 27 Januari 2026, MSCI memutuskan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard, guna memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.

Energi Mega (ENRG) Rilis Rp 1,15 Triliun, Investor Bisa Raih Untung 8,6% per Tahun

“Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis MSCI dalam pengumumannya, Selasa (27/1) malam.

Kondisi tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung mengalami aksi jual. Dalam dua hari beruntun, IHSG bahkan sempat mengalami trading halt.

Trading halt pertama terjadi pada Rabu (28/1/2026) pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Selanjutnya, trading halt kedua terjadi pada Kamis (29/1/2026) pukul 09:26:01 waktu JATS.

Kehebohan terus berlangsung di keesokan harinya. Pada Jumat (30/1) pagi, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Iman menyebut pengunduran diri tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

“Saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI. Ini yang terbaik untuk pasar modal Indonesia. Semoga dengan pengunduran diri saya, pasar modal bisa menjadi lebih baik,” ujar Iman.

Tak sampai di situ kemarin, sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga ikut mengundurkan diri dari jabatannya. Pertama di sore hari Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mundur dari jabatannya, bersama dua pejabat lainnya. 

Mereka adalah Inarno Djajadi yang mengundurkan diri dari posisi Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, serta I. B. Aditya Jayaantara selaku Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) OJK.

Sementara di malam hari yakni Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mirza Adityaswara menyatakan pengunduran diri dari jabatannya.

Pengamat pasar modal Irwan Ariston menilai tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia merupakan imbas dari lambannya respons otoritas bursa terhadap berbagai persoalan struktural. Menurutnya, pengunduran diri pejabat menjadi bentuk tanggung jawab moral atas kondisi tersebut.

Irwan menyarankan agar otoritas pasar modal Indonesia fokus memenuhi permintaan MSCI sesuai proposal yang telah diajukan BEI kepada lembaga penyedia indeks asal Amerika Serikat tersebut.

Harga Emas Turun 9%, Analis Yakin Aksi Bank Sentral Tetap Tahan Harga di Level Tinggi

“Setiap bursa bisa punya aturannya masing-masing. Yang penting ada transparansi, karena tidak semua saham harus masuk MSCI,” ujar Irwan kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Kalau menurut Direktur Infovesta Utama Parto Kawito persoalan mendasar pasar saham Indonesia adalah dugaan praktik manipulasi saham, termasuk pada saham-saham grup konglomerasi. Ia menyebut, sebelum isu ini mencuat, terdapat sejumlah saham yang sejatinya lolos kriteria MSCI, namun akhirnya dibatalkan.

“Free float hanya salah satu upaya untuk mencegah itu. Apakah bisa diserap pasar, seharusnya disimulasikan terlebih dahulu,” kata Parto kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).

Secara kasar, ketika free float dinaikkan dua kali lipat dari 7,5% menjadi 15%, maka dibutuhkan dua kali lipat dana yang masuk ke pasar saham dari investor domestik dan institusi.

“Namun jika investor asing justru menghindari Indonesia, maka pasar akan sulit naik. Paling yang bergerak hanya saham-saham tertentu yang ‘digoreng’ atau didorong aksi korporasi,” ujar Parto.

Menurut Parto, yang paling dibutuhkan investor saat ini adalah praktik perdagangan yang sehat. Jika free float dinaikkan sementara investor asing bersikap sangat bearish dan tidak masuk ke pasar, risikonya justru lebih besar.

“Bisa berisiko membuat pasar anjlok karena investor domestik belum cukup kuat. Dalam kondisi seperti ini, permintaan MSCI tidak serta-merta harus dituruti,” pungkasnya.