Rupiah melemah 0,30% selama sepekan, ini penyebabnya

Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,04% secara harian ke level Rp 16.888 per dolar AS pada Jumat (20/2/2026). Namun selama sepekan, rupiah melemah 0,30%. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,23% secara harian ke Rp 16.885 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,24% dari posisinya di Rp 16.844 per dolar AS pada Jumat (13/2/2026). 

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah sepekan dipengaruhi berbagai faktor. Diantaranya sentimen geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Para analis sempat memandang skeptis tentang potensi kemajuan Iran dan AS mencapai kesepahaman pembicaraan terkait nuklir. 

Pembicaraan ini dipantau ketat oleh pasar energi karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis. Jalur air sempit yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.

Rupiah Spot Ditutup Menguat Tipis 0,04% ke Rp 16.888 per Dolar AS pada Jumat (20/2)

Sementara itu, risiko militer tetap tinggi setelah laporan Garda Revolusi Iran melancarkan latihan di Selat Hormuz. Karena pasukan AS tetap ditempatkan secara besar-besaran di seluruh Timur Tengah.

Selain itu, para negosiator dari Ukraina dan Rusia menyelesaikan hari pertama pembicaraan perdamaian yang dimediasi AS di Jenewa pada hari Selasa, dan Presiden Donald Trump mendesak Kyiv untuk bergerak cepat menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik empat tahun tersebut. 

“Investor berhati-hati menjelang rilis risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari yang dapat memberikan wawasan baru tentang waktu dan skala potensi pelonggaran moneter,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Jumat (20/2/2026). 

Selain itu, pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen defisit APBN. Ini yang membuat Dana Moneter Internasional (IMF) mengusulkan agar Indonesia menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) karyawan atau PPh 21 untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).  

Ibrahim memproyeksikan rupiah sepekan ke depan direntang Rp 16.790 – Rp 16.980 per dolar AS.

Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva memproyeksikan nilai tukar rupiah sepekan ke depan bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang Rp 16.800 – Rp 16.950 per dolar AS. 

“Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama,” ucap Taufan kepada Kontan, Jumat (20/2/2026). 

BI Pertahankan Suku Bunga, Begini Prospek Pergerakan Rupiah

Meski demikian, Taufan melihat, pelemahan diperkirakan tidak akan terlalu dalam karena pelaku pasar domestik masih mencermati langkah stabilisasi otoritas moneter serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga.

Dari sisi domestik, sentimen utama berasal dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas inflasi, serta arus modal asing di pasar obligasi dan saham. Permintaan valuta asing (valas) dari korporasi untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri juga turut memberikan tekanan jangka pendek.

Namun, surplus neraca perdagangan dan komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar menjadi faktor penahan volatilitas rupiah agar tetap terkendali di tengah dinamika global. 

Sementara itu, dalam sepekan ke depan pelaku pasar perlu mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi dan indikator ketenagakerjaan, yang akan memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve dan pergerakan dolar AS. Selain itu, perkembangan imbal hasil obligasi AS, sentimen risiko global, serta dinamika harga komoditas juga akan menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah. 

“Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut berpotensi menjaga rupiah dalam rentang fluktuasi yang moderat, dengan bias pergerakan masih sensitif terhadap arah dolar AS,” terang Taufan.