Rupiah capai Rp 17.000 dan IHSG anjlok, analis menyoroti efeknya ke fiskal pemerintah

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat, sementara IHSG sempat terkoreksi mendekati 5%.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dan IHSG dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Menurutnya, dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah terjadinya pergantian kepemimpinan di Iran. Pemimpin baru Iran dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan tersebut.

“Kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan konflik di Timur Tengah masih akan berlanjut,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (9/3/2026).

Ketegangan tersebut berimbas pada jalur perdagangan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.

Gangguan pada pasokan energi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia melonjak. Saat ini harga crude oil dan Brent crude tercatat telah mencapai sekitar US$ 117 per barel.

Ibrahim menilai, jika konflik di kawasan Timur Tengah tidak segera mereda, harga minyak berpotensi terus meningkat bahkan dapat mendekati US$ 200 per barel.

“Kenaikan harga minyak ini akan berdampak pada harga energi lainnya seperti gas alam dan berpotensi memicu tekanan ekonomi global,” jelasnya.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap pasar domestik juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Dampak Konflik Timur Tengah, Poundsterling Merosot Tajam

Ia menjelaskan bahwa pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, lonjakan harga minyak yang jauh di atas asumsi harga normal berpotensi meningkatkan beban subsidi dan defisit anggaran.

“Jika harga minyak terus bertahan tinggi, kemungkinan defisit anggaran bisa melebar hingga sekitar 3,6%,” katanya.

Kombinasi faktor global dan domestik tersebut turut memicu tekanan di pasar keuangan Indonesia. Pada awal perdagangan, indeks dolar AS tercatat mengalami penguatan yang cukup tajam sehingga turut menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Akibatnya, rupiah sempat melemah hingga ke level Rp 17.000 per dolar AS, sementara IHSG sempat turun mendekati 5% sebelum akhirnya mengurangi pelemahannya.

Outlook Utang dan Tensi Geopolitik Menekan IHSG, Cermati Rekomendasi Saham Berikut

Pada perdagangan sesi I, Senin (9/3/2026) pukul 11:00 WIB, IHSG tercatat melemah sekitar 3,57% di level 7.315,94 berdasarkan data Stockbit.

Ibrahim menambahkan bahwa kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global dan domestik yang masih cukup tinggi.