Laba Bumi Serpong Damai (BSDE) turun, tapi kas dan landbank yang kuat jadi penopang

Ifonti.com  JAKARTA. Laba PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) di sepanjang tahun 2025 memang menurun tapi realisasinya ini telah melewati proyeksi para analis. 

Laba inti emiten properti milik Sinarmas Grup ini turun 26% secara tahunan menjadi Rp 2,6 triliun di tahun 2025. Menurut Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim dalam riset 11 Maret 2026, realisasi laba tersebut melampaui estimasinya dan konsensus yang didorong penjualan lahan yang kuat. 

“Kami menurunkan proyeksi laba tahun 2026 dan 2027 masing-masing 11% dan 3%. Ini mencerminkan normalisasi penjualan lahan, dengan laba inti tahun 2026 yang diproyeksikan turun 6% secara year on year (yoy) dari basis kinerja di 2025 yang tinggi,” terang Kevin dalam riset.  

Rupiah Ditutup Stabil di Rp 16.997 Per Dolar AS Hari Ini (17/3), Mayoritas Asia Naik

Meski demikian, Kevin memperkirakan hasil pra-penjualan BSDE tetap tangguh di Rp 10 triliun pada tahun 2026 bergerak mendatar jika dibanding tahun 2025. “Kondisi ekonomi makro menantang, didukung oleh pipeline peluncuran yang kuat. Kami menyukai BSDE karena memiliki land bank yang besar lebih dari 2.000 ha di BSD City sebagai proyek utama,” ujar dia. 

Landbank yang besar dan neraca yang kuat menurut Kevin akan memberikan fleksibilitas untuk pengembangan ke depan. Karena alasan tersebut, dia mempertahankan  rekomendasi buy saham BSDE dengan target harga Rp 1.050 diskon 80% terhadap RNAV; 9,2x P/E tahun 2026. 

Di sepanjang tahun 2025, kinerja BSDE terdorong oleh penjualan lahan yang kuat dimana pendapatan lahan naik 62% secara year on year (yoy) menjadi Rp 3 triliun, mengimbangi penurunan 29% secara yoy pada pendapatan residensial menjadi Rp 4,7 triliun. 

Meskipun penjualan lahan memiliki margin lebih tinggi, margin kotor tetap stabil di 64% karena margin residensial/komersial melemah menjadi 62%/57%. Margin ini lebih kecil dari realisasi pada tahun 2024 dengan margin residensial 63% dan komersial 59%. 

Sementara biaya operasi yang lebih tinggi menurunkan margin EBITDA menjadi 37% di 2025, lebih rendah dari tahun 2024 di level  41%. Di bawah garis laba operasi, pendapatan dari entitas asosiasi melonjak 77% menjadi Rp 615 miliar, didorong oleh peningkatan serah terima di ‘Nava Park’. 

“Kami memperkirakan laba akan kembali normal pada tahun 2026 tapi masih turun 6% secara yoy seiring moderasi penjualan lahan dari basis tahun 2025 yang tinggi,” papar Kevin dalam riset. 

Di tahun ini, BSDE memiliki pipeline peluncuran proyek  yang cukup banyak. “Kami memperkirakan pra-penjualan tahun 2026 tetap tangguh di Rp 10 triliun mendatar secara tahunan didorong oleh peluncuran baru di ‘Nava Park 2’ dan ‘Kota Wisata Ecovia’,” tulis Kevin.  

Meski begitu, Kevin memperkirakan,  penjualan proyek tersebut menjadi penyeimbang penurunan pra-penjualan lahan joint venture dan lot komersial dari basis 2025 yang tinggi termasuk Rp 617 miliar penjualan lahan di Menteng dan Rp 2,1 triliun penjualan lahan JV untuk Nava Park 2 dan Hiera. Sementara itu, township Rancamaya di Bogor diperkirakan mendapat manfaat dari rencana pembangunan pintu tol baru di sekitarnya.

BSDE juga akan diuntungkan dari biaya pendanaan yang lebih rendah. Pada tahun 2025, BSDE berhasil menerbitkan obligasi sebesar Rp 2,8 triliun atau 17% dari total utang dengan tingkat bunga yang menarik sebesar 5,5%–6,5% untuk tenor 3–10 tahun. Biaya bunga tersebut lebih rendah ketimbang bunga yang harus dibayar sebelumnya 6,8%–7,8% untuk tenor 3–5 tahun. 

Program MBG Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham Cisarua Mountain Dairy (CMRY)

Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan BSD City Fase 3 dan pembangunan Seksi II jalan tol Serpong–Balaraja. Neraca BSDE tetap sehat dengan net gearing 11% dan rasio net debt terhadap EBITDA sebesar 1,3x. “Kami juga memproyeksikan arus kas bebas ke perusahaan (FCFF) yang solid sebesar Rp 1 triliun – Rp 1,5 triliun pada tahun 2026–2027, yang mendukung fleksibilitas keuangan,” ujar Kevin. 

Lebih rinci, Kevin memparkan jika pendapatan BSDE di tahun 2026 bisa mencapai Rp 12,53 triliun dengan laba bersih Rp 2,42 triliun. Sedangkan di tahun 2027, pendapatan dan laba bersih BSDE masing-masing sebesar Rp 12,18 triliun dan Rp 2,27 triliun.