
Ifonti.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Di tengah tekanan terhadap mata uang domestik tersebut, sejumlah aset kripto alternatif (altcoin) justru mencatat penguatan signifikan.
Melihat Arah Saham CPO dan Batubara di tengah Rumor Badan Ekspor Komoditas
Berdasarkan data CoinGecko, beberapa altcoin mengalami kenaikan harga dalam dua pekan terakhir.
NEAR tercatat naik 27,9%, RON melonjak 32%, ONDO menguat 15,7%, INJ naik 12,3%, dan CHZ bertambah 7,7%. Sementara itu, HYPE juga menguat 5,4% hanya dalam 24 jam terakhir.
Di sisi lain, harga Bitcoin justru melemah mendekati level US$ 75.000, dari sebelumnya berada di kisaran US$ 80.000.
Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai, pergerakan altcoin yang berlawanan arah dengan Bitcoin mencerminkan adanya rotasi likuiditas investor ke aset kripto selain Bitcoin.
“Lonjakan ini menandakan bahwa investor tidak sepenuhnya keluar dari instrumen berisiko. Tren bullish tahap awal yang sudah mulai terbentuk kemungkinan masih bertahan, meski sentimen pasar secara keseluruhan tetap berhati-hati dengan volatilitas tinggi,” ujar Fahmi dalam keterangan resminya.
Wall Street: S&P 500 dan Nasdaq Dibuka Turun Selasa (19/5), Saham Chip Tekan Pasar AS
Menurut Fahmi, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal, terutama lonjakan harga minyak dunia yang kembali mendekati US$ 100 per barel akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan biaya impor energi dan memperlebar defisit migas Indonesia.
Selain itu, penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memicu arus keluar modal dari kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Meski Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valas, tekanan terhadap rupiah dinilai masih berpotensi berlanjut selama kondisi global belum stabil.
Fahmi menambahkan, pelemahan Bitcoin dalam denominasi dolar AS tidak selalu berarti investor domestik mengalami kerugian jika dihitung dalam rupiah.
INDY Terbitkan Surat Utang Senior US$ 100 Juta untuk Ekspansi, Simak Pandangan Analis
“Dengan dolar AS menguat, harga Bitcoin dalam rupiah sebenarnya bisa saja tetap menguat meski dalam dolar melemah. Artinya, investor lokal yang mengukur aset dalam rupiah mungkin tidak terlalu terdampak oleh perbedaan kecil di tengah volatilitas global ini,” jelasnya.
Ia juga menyoroti prospek suku bunga tinggi di AS yang masih menjadi sentimen utama pasar. Sejumlah bank global memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi tekanan inflasi global.
Sementara itu, inflasi domestik pada April 2026 tercatat sebesar 2,42% secara tahunan (year on year/YoY), masih berada di bawah target BI.
Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus, meski kenaikan impor migas dan barang modal sekitar 18% YoY pada Januari 2026 menjadi perhatian pasar.