
Ifonti.com Momen cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali menjadi ujian kedewasaan finansial di tengah euforia menjelang Idulfitri. Dana tambahan ini sejatinya merupakan instrumen pendukung kesejahteraan. Namun, tanpa rencana pengelolaan dana yang terencana, THR berisiko habis dalam sekejap tanpa sisa.
Langkah paling krusial dalam mengelola dana ini adalah dengan menempatkan kewajiban moral dan agama di urutan teratas. Sebelum merancang daftar belanja, setiap individu sebaiknya langsung menyisihkan dana untuk zakat fitrah maupun zakat maal. Ibadah tersebut tentu menjadi sebuah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan, tentunya bagi yang mampu.
Prinsip berkesadaran mengelola THR saat Lebaran merupakan momen penting berbagi rezeki yang kita terima kepada hak pihak lain, sehingga menunaikannya di awal akan memberikan ketenangan batin sekaligus keteraturan anggaran. Jika masih ingin bersedekah, beri kelonggaran juga anggaran khusus agar kebutuhan lain tetap pada porsinya.
Setelah kewajiban terpenuhi, fokus berikutnya adalah memetakan kebutuhan operasional Lebaran secara realistis agar tidak terjebak dalam gaya hidup impulsif. Kebutuhan lain seperti biaya bahan makanan untuk jamuan hari raya, biaya transportasi mudik, hingga kebutuhan keluarga inti pun perlu dihitung secara rinci.
Hal lain yang perlu dipahami adalah tentang pemahaman antara kebutuhan mendesak dan keinginan sesaat agar dana THR tidak terkuras hanya untuk konsumsi yang sifatnya sementara. Guna menjaga keseimbangan tersebut, penerapan rumus alokasi sederhana sangat disarankan demi menjaga kesehatan arus kas.
THR dapat dipecah menjadi 40% untuk kebutuhan Lebaran, 30% untuk memperkuat tabungan atau instrumen investasi, 20% untuk pos berbagi dan keluarga, serta menyisakan 10% sebagai apresiasi diri atau self reward yang tetap terukur.
Paling penting, pengelolaan dana THR sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam memprioritaskan kebutuhan mendesak daripada keinginan sesaat. Banyak masyarakat yang terjebak dalam perilaku belanja impulsif hanya karena tergiur promo diskon. Tak jarang, sikap tersebut berakhir pada penyesalan karena dana yang terkuras habis hanya untuk keperluan konsumsi semata tanpa menyisakan sedikitpun dana cadangan.
Dengan menahan diri dari godaan konsumerisme berlebihan dan disiplin pada rencana alokasi yang telah dibuat, THR tidak akan sekadar “numpang lewat” di rekening, melainkan sebuah pilihan realistis keuangan untuk kebutuhan jangka panjang. Tak hanya itu, pengelolaan dana yang bijak akan memastikan bahwa perayaan hari raya tetap bermakna tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan di bulan-bulan berikutnya, sehingga kemenangan yang dirayakan tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga finansial.
Dalam upaya memperkuat tujuan tersebut, masyarakat kini dapat menyisihkan sebagian THR untuk investasi, salah satunya dalam bentuk emas. Optimalkan investasi emas di Bank Syariah Indonesia dengan cara yang mudah, murah dan aman. Cukup akses BYOND by BSI dan segera buka rekening emas.
Bank menyimpan fisik emas dan dapat dicetak sesuai keinginan nasabah. Saat dibutuhkan, nasabah bisa menjual atau menggadaikannya. Dalam jangka panjang, emas juga dapat digunakan untuk merencanakan tujuan finansial seperti membayar DP rumah, persiapan ibadah haji, hingga menyiapkan dana pendidikan.