
Ifonti.com JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia cenderung fluktuatif dalam kisaran terbatas pada perdagangan hari ini (27/3/2026).
Berdasarkan data Trading Economics pukul 15.11 WIB, South Korean Won (KRW) menguat 0,14% menjadi 1.505 per dolar Amerika Serikat (USD), dan Chinese Yuan (CNY) menguat tipis 0,05% menjadi 6,91 per USD.
Di sisi lain, Indonesian Rupiah (IDR) melemah 0,31% menjadi 16.979 per USD dan Japanese Yen (JPY) justru melemah 0,05% menjadi 159,89 per USD.
Jayamas Medica Industri (OMED) Targetkan Pendapatan Rp 2,3 Triliun di 2026
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menyarankan investor ritel strategi bertahan dengan disiplin di tengah volatilitas.
“Gunakan instrumen derivatif untuk memitigasi risiko penurunan nilai, terutama bagi mereka yang memiliki eksposur besar pada KRW atau JPY,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Ia juga mengingatkan pentingnya mencermati kebijakan otoritas moneter karena intervensi sering kali menciptakan pembalikan harga yang tajam dalam waktu singkat.
Selain itu, diversifikasi portofolio dinilai perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental masing-masing mata uang.
Sutopo menilai CNY relatif lebih stabil, sementara IDR lebih sensitif terhadap kenaikan harga energi.
Senada, Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa juga menilai CNY cenderung lebih stabil karena adanya dukungan kebijakan dari pemerintah China.
Sementara, JPY dan KRW lebih rentan akibat ketergantungan terhadap energi, sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih aset valuta asing.
Amru menambahkan, penguatan jangka pendek yang terjadi saat ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum profit taking, mengingat reli masih bersifat teknikal dan belum mencerminkan perubahan tren yang solid.
“Untuk pelaku dengan eksposur impor atau kewajiban dalam valuta asing, langkah hedging (lindung nilai) tetap diperlukan guna melindungi risiko di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi,” kata Amru.
Perak Masih Tertekan, Risiko Penurunan Harga Masih Terbuka