Harga minyak naik pada Selasa (31/3) pagi, dipicu memanasnya perang Timur Tengah

Ifonti.com  JAKARTA. Harga minyak melanjutkan reli pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi. Pukul 06.22 WIB, Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 di New York Mercantile Exchange ada di level US$ 106 per barel, naik 3,03% dari sehari sebelumnya yang ada di level US$ 102,88 per barel.

Harga minyak melonjak setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker di Teluk Persia dan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terhadap infrastruktur sipil negara itu seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip Bloomberg, Iran menyerang kapal Kuwait yang bermuatan penuh. Kuwait Petroleum Corp menyebutkan, penyerangan kapal pengangkut minyak mentah di Pelabuhan Dubai ini menyebabkan kebakaran dan potensi tumpahan minyak di perairan sekitarnya.

Rupiah Dibayangi Sentimen Eksternal, Ini Proyeksinya untuk Perdagangan Selasa (31/3)

Teheran mulai membidik kapal yang beroperasi di seluruh Teluk sejak perang dimulai, dan baru-baru ini menghantam dua kapal di dekat Irak.

Pada Senin, Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media social bahwa AS akan meledakkan pembangkit listrik, fasilitas minyak dan mungkin infrastruktur desalinasi jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz.

Perang Iran secara efektif telah menutup jalur air penting bagi pelayaran, mengancam pasokan minyak mentah, gas alam dan produk-produk seperti solar dari pasar global yang menyebabkan melonjaknya Harga energi dan kekhawatiran inflasi.

Trump secara rutin mengatakan kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Namun, di sisi lain AS telah mengirim lebih banyak pasukan ke wilayah tersebuh seiring konflik yang berlanjut hingga pekan kelima.

Saham Blue Chip Ini Turun 24% YTD, Saatnya Koleksi? Cek Prospek & Target Harga 2026

“Nada yang tersirat tetaplah satu langkah maju, lima Langkah mundur di setiap jalan keluar,”  kata Rebecca Babin, seorang trader energi senior di CIBC Private Wealth Group seperti dikutip Bloomberg.

“Dengan 10 juta barel-12 juta barel per hari yang masih hilang dari asar, cadangan semakin menipis dan membicarakan harga minyak yang lebih rendah menjadi kurang efektif.”