OJK beberkan penyebab IHSG longsor 16 persen sepanjang 2026

Jakarta, IDN Times – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara soal anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 16,91 persen sepanjang 2026. Sementara IHSG pada perdagangan Kamis (2/4/2026) jatuh lebih dari 2 persen ke level 7.029,85.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi menjelaskan, koreksi IHSG terjadi akibat sentimen geopolitik di Timur Tengah. Ia mengatakan, kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor akibat terganggunya pasokan dan kenaikan harga energi.

“Hal ini tidak terlepas dari eskalasi ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan harga energi secara global. Dampaknya langsung dirasakan di pasar modal kita. Per 1 April 2026, IHSG tercatat ditutup pada level 7.184,44 atau telah mengalami koreksi sebesar 16,91 persen secara year to date,” ungkap Hasan dalam acara Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/4/2026).

1. Rata-rata nilai transaksi harian tembus Rp20,66 triliun

Meski demikian, ia menyebut pasar keuangan domestik masih menunjukkan kinerja yang baik walaupun mengalami koreksi. Rata-rata nilai transaksi harian IHSG berada di angka Rp20,66 triliun selama Maret 2026.

“Meskipun dalam beberapa hari terakhir, termasuk hari ini, terjadi moderasi nilai transaksi harian, kami melihat hal ini juga dapat menjadi sinyal positif. Artinya, tidak lagi terdapat reaksi berlebihan dari investor dalam menyikapi perkembangan pasar,” jelasnya.

2. Ada satu perusahaan yang akan lakukan IPO

Sementara itu, aktivitas transaksi di reksa dana tercatat sebesar Rp695,71 triliun hingga akhir Maret 2026, tumbuh positif 3,02 persen sepanjang tahun. Selain itu, dana yang dihimpun korporasi di pasar modal hingga Maret 2026 mencapai Rp51,96 triliun.

“Saat ini, terdapat satu calon perusahaan tercatat yang akan melakukan initial public offering (IPO) dalam waktu dekat,” ujar Hasan.

3. Kepercayaan investor ke manajer investasi masih kuat

Selain itu, tercatat enam emisi penawaran umum serta penawaran berkelanjutan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan total 36 emisi. Hasan berharap pasar keuangan Indonesia dapat terus terjaga di tengah tekanan domestik dan global.

Di tengah kondisi seperti ini, kepercayaan investor yang mempercayakan pengelolaan dananya kepada manajer investasi masih kuat dan terus meningkat.

“Kami di OJK, bersama seluruh pelaku dan pemangku kepentingan di industri, melihat tekanan yang terjadi lebih dipengaruhi oleh faktor domestik dan eksternal di luar kondisi pasar kita. Sementara itu, kondisi pasar secara keseluruhan diharapkan tetap terjaga,” pungkasnya.

IHSG Tiarap Seharian, 503 Saham Ikutan Ambruk IHSG Kebakaran di Kamis Pagi, 7 Saham Ini Bisa Jadi Watchlist