
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara tak kunjung mengumumkan pemenang tender fasilitas proyek pengolahan sampah jadi energi atau WtE untuk Kota Yogyakarta. Padahal tiga kota lain yaitu Bali, Bekasi dan Bogor yang berada di tahap pertama sudah mulai jalan.
Keterlambatan itu terasa lantaran Danantara sudah berencana membuka tender proyek WtE tahap kedua pada April 2026. Untuk proyek di Bekasi, Danantara menunjuk Wangneng Environment Co., Ltd sebagai pemenang operator di sana. Adapun Zhejiang Weiming menjadi pemenang tender untuk wilayah Denpasar dan Bogor.
Direktur Investasi Danantara yang juga menjadi lead proyek WtE Fadli Rahman mengatakan, proses penentuan mitra di Yogyakarta masih berlangsung karena adanya sejumlah hal yang perlu dinegosiasikan. “Di Yogyakarta kita masih dalam proses pemilihan mitra. Ada beberapa hal yang terkait negosiasi,” ujar Fadli dalam acara update proyek WtE di Wisma Danantara, Kamis (9/4).
Ia menjelaskan, pemilihan mitra untuk proyek di Yogyakarta sangat mempertimbangkan kecepatan pembangunan. Hal ini sejalan dengan urgensi penanganan persoalan sampah di daerah tersebut.
Baca juga:
- Komdigi Beri Catatan Merah, Google Kena Sanksi Tak Patuhi PP Tunas
- Prabowo Sebut Raksasa Sedang Bangkit, RI Bakal Beri Kejutan Besar pada 2027
- Bos BTN (BBTN) Blakblakan, Incar KPR Tumbuh 10% hingga Bangun 240 Ribu Rumah
“Karena urgensi dari masalah sampah di Yogyakarta, kami tidak ingin memilih mitra yang proses pembangunannya sangat lama,” katanya.
Selain pembangunan fasilitas, Danantara juga akan mendorong peningkatan tingkat pengumpulan sampah (collection rate) di daerah lokasi investasi. Fadli menambahkan, pemenang tender pengelola fasilitas WtE tidak menutup kemungkinan berasal dari perusahaan yang sama dengan proyek sebelumnya, selama memenuhi kriteria yang ditetapkan termasuk pada tahap kedua.
Utamakan Rekam Jejak
Lebih jauh Fadli mengatakan, bisa saja, negara pemenang di tahap pertama menjadi pemenang tender di tahap kedua. Mengingat kedua pemenang tender di tahap pertama berasal dari Cina. Adapun sejumlah kriteria utama dalam pemilihan mitra meliputi aspek administratif dan rekam jejak perusahaan, kemampuan teknis dalam pengembangan proyek WtE, serta kekuatan finansial.
Dari sisi teknis, penilaian mencakup pengalaman pembangunan fasilitas serupa, kemampuan desain, pengelolaan dampak lingkungan dan sosial, hingga transfer pengetahuan dan teknologi ke Indonesia. Sementara itu, dari sisi finansial, Danantara menilai kemampuan pendanaan menjadi faktor krusial mengingat proyek WtE membutuhkan investasi besar.
“Jadi ini adalah hal-hal yang memang kita dorong, atau kita nilai dari mereka,” ujarnya.
WtE merupakan program nasional yang dirancang untuk mengolah sampah kota menjadi energi listrik. Proyek ini nantinya sebagai solusi kedaruratan sampah sekaligus upaya mendukung ketahanan energi nasional. Pemenang tender tahap pertama dijadwalkan bakal digelar awal Februari.
Nilai investasi proyek ditaksir mencapai Rp 91 triliun, dengan investasi per proyek berkisar Rp 2,5 triliun sampai Rp 3,2 triliun. Proyek yang diklaim bakal atasi permasalahan timbunan sampah Indonesia ini ditargetkan dibangun di 33 lokasi, dengan per proyek mengelola 1.000 ton sampah per harinya.